Kamis, 03 September 2009

Catur Warna: Benarkah Menghambat Perkembangan Hindu?

Om Suastiastu,

Sehabis menyantap hidangan makan malam di meja makan, seorang anak menanyakan sesuatu kepada ayahnya, seorang pengusaha sukses. “Ayah, apakah yang dimaksud dengan Catur Paramita? Terdiri dari apa saja dan apakah artinya masing-masing?” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari mulut anaknya, sang ayah buru-buru menjawab. “Nak, sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan kepada guru agama di Pura. Mereka pasti lebih tahu daripada Ayah. Lagi pula, Ayah selama ini sibuk terus dengan urusan bisnis, sehingga tidak sempat mempelajari hal-hal seperti itu?”

Pada kesempatan lain, seorang pejabat penting di sebuah departemen yang kebetulan beragama Hindu diminta untuk memberikan Dharma Wacana dalam sebuah arisan keluarga. “Waduh, mohon maaf, saya belum bisa memberikan Dharma Wacana. Pemahaman agama saya masih kurang, belum seberapa dibandingkan dengan yang lain. Undang saja orang dari Departemen Agama, dari Parisada, ataupun Ida Pedanda sekalian supaya lebih mantap.”

Kedua fenomena di atas mungkin bisa menjadi gambaran yang mewakili sebagian umat Hindu yang hingga kini masih banyak yang tidak tertarik untuk mendalami ajaran Hindu. Jangankan mendalami, sekadar membaca-baca buku yang bernafaskan Hindu saja mungkin mereka tidak tertarik. Di mana sesungguhnya letak permasalahannya? Apakah ajaran Hindu memang tidak menarik? Ataukah cara penyajiannya yang kurang menarik? Jangan-jangan ada sesuatu yang menjadi penghambatnya.

Dalam agama Hindu terdapat ajaran Catur Warna yang selama ini dimaknai sebagai pembagian tugas dalam masyarakat yang terdiri dari empat bidang, yakni Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Brahmana adalah golongan masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya mengantarkan upacara keagamaan, mendalami ajaran Hindu, serta melakukan pembinaan kerohanian kepada umat Hindu. Termasuk kelompok ini adalah para Sulinggih, Pinandita, dan guru agama Hindu.

Ksatria adalah golongan masyarakat yang bertugas melindungi masyarakat serta menjalankan pemerintahan. Para birokrat beserta jajarannya termasuk dalam golongan ini. Pada jaman dahulu yang termasuk golongan ini adalah raja, patih, punggawa, dan sejenisnya.

Kalau Ksatria bertugas menggerakkan roda pemerintahan, golongan Wesya adalah kelompok masyarakat yang bertugas menggerakkan roda perekonomian. Yang masuk kelompok ini adalah para pengusaha, pedagang, dan sejenisnya. Terakhir, golongan Sudra adalah golongan masyarakat yang bertugas melayani ketiga golongan di atas.

Penjelasan makna dari Catur Warna seperti di atas merupakan pemaknaan yang telah menjadi pegangan sebagian besar umat Hindu di Indonesia selama ini. Disadari atau tidak, pemaknaan demikian telah membagi dan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan peran masing-masing golongan. Seperti contoh percakapan di atas, karena merasa dirinya seorang pengusaha yang termasuk kategori Wesya, orang tersebut merasa tidak perlu mendalami ajaran Hindu. Dia sudah merasa cukup berperan sebagai seorang Wesya. Urusan agama sudah ada yang menangani, yakni para guru agama Hindu di sekolah yang termasuk golongan Brahmana.

Demikian juga dengan fenomena pejabat tadi. Walaupun kariernya sebagai birokrat tergolong moncer, tetapi dia merasa minder dalam urusan ajaran agama. Sebenarnya peran sebagai seorang Ksatria sudah dijalaninya dengan sukses. Di samping sudah terbiasa memimpin rapat-rapat penting, pejabat tersebut juga dapat dengan lancarnya memberikan pengarahan-pengarahan kepada anak buahnya. Bahkan, wacana tentang nilai-nilai kehidupan terkadang muncul juga di sela-sela pengarahannya. Hal ini berarti pejabat tadi sesungguhnya sudah mumpuni untuk memberikan Dharma Wacana. Berbagai pengalaman sepanjang kariernya sebagai birokrat, jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran yang dimiliki agama Hindu, merupakan bahan Dharma Wacana bagus yang dapat menginspirasi umat Hindu lainnya. Akan tetapi, akibat penghayatan terhadap Catur Warna yang telah melekat selama ini, pejabat tadi tidak tertarik untuk mempelajari agama karena mendalami ajaran agama adalah tugas seorang Brahmana.

Apakah kondisi tersebut akan kita biarkan terus berlangsung? Jawabannya pasti tidak. Untuk itu, marilah kita telusuri kembali secara cermat apa sesungguhnya makna Catur Warna.

Catur Warna sejatinya adalah empat warna atau fungsi yang melekat pada diri seseorang. Keempatnya melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh adalah seorang ayah. Peran (fungsi) Brahmana wajib dilakoninya dalam rangka memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan agama anaknya. Seorang ayah mesti ikut mengajarkan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya. Kalau selama ini pendidikan agama Hindu diserahkan begitu saja kepada guru-guru agama, baik di sekolah maupun di Pesraman (Pura), maka mulai saat ini sebaiknya seorang ayah mulai ikut mengambil peran dan bertanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak-anaknya. Peran Brahmana yang seharusnya melekat pada dirinya yang selama ini seolah-olah terabaikan, sebaiknya berangsur-angsur mulai dijalankan.

Di samping sebagai Brahmana, seorang ayah adalah juga seorang Ksatria. Dia adalah seorang kepala keluarga, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab mengarahkan tujuan berumah tangga. Jiwa kepimpinan mesti dimiliki seorang ayah, sehingga mampu mengarahkan perjalanan hidup anggota keluarga lainnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Seorang ayah adalah juga seorang Wesya yang bertanggung jawab memperoleh penghasilan untuk kelancaran perekonomian keluarga. Peran Wesya sangat sentral dalam keluarga. Ayahlah seharusnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi finansial keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang mapan akan mampu menghantarkan keluarga menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Warna Sudra merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang ayah. Ayah harus bisa melayani kepentingan istri, anak, serta anggota keluarga lainnya. Peran sebagai pelayan bukan berarti merendahkan martabat seseorang. Melayani orang lain sejatinya adalah melayani diri sendiri. Aktivitas melayani akan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang menyehatkan.

Berdasarkan uraian di atas, jelas-jelas terlihat bahwa Catur Warna melekat pada diri seseorang dan mesti dijalankan keempatnya, walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Khusus untuk Warna Brahmana, marilah kita mulai mendalami ajaran agama Hindu sebaik-baiknya. Mari kita maknai ajaran agama kita, sehingga dengan makna tersebut bisa mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera. Berdasarkan pemahaman yang kita dapatkan, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Di samping kepada anak-anak kita, pemahaman yang diperoleh tersebut dapat juga disampaikan kepada orang lain, baik di sampaikan secara langsung, maupun lewat tulisan. Yakinlah, apa yang kita sampaikan akan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Om Shanti Shanti Shanti Om

6 komentar:

ari mengatakan...

bagi saya ini paradigma baru memandang konsep tersebut. sekarang kotak-kotak pembatas tersebut justru disatukan dalam setiap individu manusia. tidak perlu dominan di satu peran, pada akhirnya semua harus seimbang ya, blih.

Made mengatakan...

apa nggak keliru (salah ketik) Wid...paragraph 7..pengusaha dimasukkan warna Ksatria bukankah wesia maksudnya?

I Nyoman Widia mengatakan...

@ari: betul, dalam setiap diri manusia, keempat warna itu akan nampak dengan porsi yang berbeda-beda. suksma

@made: benar sekali, maksudnya memang Wesya. Terima kasih koreksinya. Nanti akan saya perbaiki.

Astien mengatakan...

Om Swastyastu.
Setuju. Hendaknya kita memandang semua berdasarkan fungsi serta kegunaannya. Bukan semata-mata benda tsb. Banyak juga yang masih memandang Catur Warna (Kasta) dengan Klen (drajat kebangsawanan), ini tentu perlu diluruskan. Karena Si A bisa dipandang sebagai anak bagi ayahnya, suami bagi istrinya dan ayah bagi anaknya.
Teruskan Pak; Tulisan macam ini perlu diperbanyak;
Om Santih santih santih Om

dude mengatakan...

OSSA...

kalo CATUR WARNA di bedakan berdasrkan pekerjaannya tapi yang berkembang skg adalah KASTA.
Saya jujur tidak sreg dgn KASTA...

merupakan salah satu kelemahan HINDU di akan DATANG

silakan baca

http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/

setia wikananda mengatakan...

yang ada dalam ajaran agama hindu adalah catur warna,bukan catur kasta..hindu sendiri tdk mengenal istilah kasta(setau saya itu dr bhs portugis,klo g salah).catur warna adlh diferensiasi sosial,sdngkn kasta stratifikasi sosial..semua bagian catur warna saling menunjang tdk bs berdiri sdri..semua mulia d hadapan Tuhan..mari kita sama2 meluruskan hal ini..istilah catur kasta d buat utk melemahkan ajaran hindu yg mulia,bs d jadikan salah satu senjata utk konversi hindu ke agama lain...suksma