Kamis, 14 Januari 2010

SORGA, NERAKA, DAN MOKSA

Om Suastiastu,

Hampir setiap ajaran agama di muka bumi ini mengenal adanya Sorga dan Neraka, tetapi hanya ajaran Hindu yang mengenal Moksa. Apakah Sorga dan Neraka itu merupakan sebuah tempat? Kalau merupakan sebuah tempat, pertanyaan kita berikutnya adalah: di manakah tempat itu berada? Benarkah Sorga dan Neraka itu ada? Bagaimanakah keadaan tempat-tempat tersebut? Siapakah yang sudah pernah ke sana dan mau menceritakannya?

Selama ini kebanyakan orang meyakini bahwa Sorga atau Neraka merupakan tempat yang akan kita tuju setelah kita meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sorga merupakan tempat yang penuh kenikmatan, suasana menyenangkan, banyak bidadari yang tentunya cantik-cantik, penuh cinta dan kasih sayang, serta hal-hal yang menyenangkan lainnya. Sebaliknya, neraka merupakan tempat orang-orang yang menderita, sengsara, penuh siksaan, dan hal-hal yang menyedihkan lainnya.

Sampai saat ini saya belum pernah berjumpa dengan orang yang sudah pernah pergi ke Sorga ataupun sudah pernah mampir ke Neraka. Saya juga belum pernah berkunjung ke tempat tersebut. Oleh karena itu, saya tidak akan menceritakan bagaimana kondisi Sorga dan Neraka yang merupakan domisili setelah kematian itu. Akan tetapi, saya akan membahas analogi dari Sorga dan Neraka dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mari kita simak ilustrasi berikut.

Tyaga (bukan nama sebenarnya) adalah seorang gadis manis yang baru menginjak usia remaja. Seperti gadis-gadis lain seusianya, Tyaga mulai menjalin cinta kasih dengan seorang pemuda. Sebut saja namanya Suastantra. Walaupun mereka masih dalam usia remaja, tetapi jalinan kasih di antara mereka sangat serasi dan indah. Tyaga menyayangi Suastantra dengan sepenuh hati. Suastantra setali tiga uang. Dia sangat mengasihi Tyaga.

Dalam keseharian, Tyaga menjelma menjadi gadis yang periang, berperilaku menyenangkan, suka menolong sesama, gampang memaafkan orang lain, serta hidupnya bahagia. Orang-orang pun suka bergaul dengan Tyaga.

Kalau dibandingkan dengan suasana kehidupan di Sorga seperti yang diajarkan agama selama ini, kehidupan yang dialami Tyaga dapat kita katakan sebagai Sorga. Tyaga sudah mencapai Sorga dalam kehidupannya sekarang. Hidupnya berkelimpahan cinta kasih, kesenangan, di kelilingi oleh orang-orang yang menyenangkan, serta hal-hal yang menyenangkan lainnya.

Pada suatu hari, Tyaga mengajak pacarnya untuk jalan-jalan naik motor ke luar kota. Awalnya Suastantra menolak secara halus karena masih harus mengerjakan tugas sekolah. Akan tetapi, berhubung Tyaga mendesaknya, akhirnya mereka dengan berboncengan motor pergi ke luar kota untuk memadu kasih. Dengan laju motor yang biasa-biasa saja, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang sebuah truk dengan kecepatan sangat tinggi menabrak sepeda motor mereka. Tabrakan pun tidak bisa dihindarkan.

Akibat dari kejadian itu, Suastantra terluka parah di kepalanya, sedangkan Tyaga mengalami luka-luka ringan, sedangkan motornya hancur. Mereka cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Setelah mengalami perawatan cukup intensif selama beberapa hari, akhirnya Suastantra meninggal dunia.

Betapa sedih hati Tyaga ditinggal kekasihnya untuk selama-lamanya. Di samping sedih yang mendalam, ada perasaaan yang bersalah di hatinya. Musibah ini berawal dari ajakan dirinya untuk pergi ke luar kota. Rasa sedihnya bertambah tatkala dia ingat bahwa kekasihnya itu sebenarnya sudah menolak, tetapi karena dia yang mendesak, maka pergilah mereka berdua naik motor hingga ditabrak truk yang sopirnya ugal-ugalan itu. Tyaga menjadi benci pada dirinya sendiri. Rasa benci juga timbul kepada sopir truk yang tidak bertanggung jawab yang karena ulahnya telah merenggut nyawa kekasihnya.

Perasaan sedih yang timbul, rasa bersalah, rasa benci pada diri sendiri dan kepada sopir truk terus menyiksa dirinya. Inilah Neraka yang sesungguhnya.

Bagaimana caranya dia lepas dari Neraka ini?

Untuk membebaskan dari rasa bersalah ini Tyaga harus bisa memaafkan dirinya. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk dapat memaafkan diri sendiri. Pertama, Tyaga sebaiknya memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Walaupun Tuhan sudah pasti mengampuni, tetapi tindakan memohon ampun merupakan jembatan emas untuk bisa memaafkan diri sendiri. Tanpa meminta maaf pun sebenarnya Tuhan sudah memaafkan, tetapi tidak demikian dengan diri kita. Memaafkan diri sendiri memerlukan proses.

Setelah memohon ampun kepada Tuhan, tindakan berikut yang sebaiknya dilakukan Tyaga adalah memohon maaf kepada keluarga kekasihnya. Memohon maaf kepada orang lain merupakan cara ampuh untuk mempercepat proses memaafkan diri sendiri.

Dengan memohon ampun kepada Tuhan dan memohon maaf kepada orang lain, maka proses melepaskan diri dari rasa bersalah akan terjadi. Perlahan-lahan rasa bersalah itu akan lepas untuk kemudian akan menjadi terbebaskan dari rasa bersalah. Tyaga akan terbebaskan dari beban rasa bersalah yang menghimpitnya.

Bagaiamana dengan perasaan bencinya kepada sopir truk? Rasa benci ini akan terus membebani Tyaga sepanjang Tyaga belum memaafkannya. Selama belum memaafkan, maka Tyaga akan tersiksa oleh rasa benci tersebut. Oleh karena itu, dia perlu dengan ikhlas memaafkan sang sopir. Memaafkan orang lain berarti proses melepaskan beban berat berupa rasa kebencian pada orang lain. Dengan memaafkan, Tyaga akan terbebas dari beban. Memaafkan sejatinya adalah membebaskan diri dari siksaan.

Kedua tindakan Tyaga, yakni memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain akan mampu membebaskan Tyaga dari siksaan Neraka di dunia nyata ini. Apabila Tyaga berhasil terbebas dan terlepas dari ikatan-ikatan ini untuk selamanya, maka Tyaga sudah mampu mencapai Moksa karena kata Moksa sendiri sebenarnya berarti bebas atau lepas. Tyaga sudah bisa melepaskan beban-beban yang menghimpit, sekaligus membebaskan dirinya dari beban tersebut. Tyaga sudah mencapai Suka Tanpawali Duka.

Selamat Menjalankan Brata Siwaratri.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kamis, 31 Desember 2009

Melalui Tri Kaya Parisudha Kita Tingkatkan Kinerja

Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga jenis tingkah laku yang disucikan yang dalam Ajaran Hindu disebut Tri Kaya Parisudha.

Tri Kaya Parisudha terdiri dari Manacika Parisudha, Wacika Parisudha, dan Kayika Parisudha. Manacika Parisudha artinya umat Hindu hendaknya senantiasa mempunyai pikiran-pikiran yang baik, yang positif, dan benar.

Senin, 30 November 2009

Catur Paramitha

Hindu mempunyai ajaran yang sangat mulia dalam menuntun umatnya untuk berperilaku yang baik dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Ajaran yang disebut Catur Paramitha itu terdiri dari Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa.

Maitri artinya dalam kehidupan sehari-hari hendaknya umat Hindu menganggap bahwa setiap orang adalah sahabat. Kita diajarkan untuk selalu bersikap bersahabat kepada siapapun. Sikap bersahabat ini, jika berhasil kita terapkan, akan menciptakan kedamaian dalam hidup. Sejatinya tidak ada musuh di luar diri kita karena sesungguhnya musuh itu bercokol dalam diri setiap orang.

Apapun perilaku orang lain terhadap kita, sebagai seorang sahabat sejati, kita akan tetap menresponnya bagaiamana layaknya seorang sahabat. Jika sahabat kita melakukan kesalahan, kita tidak akan mendendam ataupun membencinya. Malahan kita akan segera bisa memaafkannya.

Membenci ataupun dendam terhadap seseorang akan menimbulkan beban berat pada kita. Beban tersebut akan terus kita pikul dalam perjalanana ke manapun kita pergi. Sebaliknya, memaafkan berarti membebaskan kita dari beban berat. Dengan memaafkan, beban itu akan lepas, sehingga kita akan lega kembali. Sikap ini akan nampak jika kita menganggap bahwa semua orang adalah sahabat (Maitri).

Ajaran kedua adalah Karuna yang berarti kasih sayang atau cinta kasih. Hindu mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengembangkan sifat cinta kasih atau kasih sayang kepada siapapun. Energi kasih merupakan energi positif yang memiliki tingkat yang sangat tinggi, jauh di atas energi yang dihasilkan oleh rasa kebencian. Energi kasih yang terpancar akan sanggup menetralkan energi-energi negatif, baik yang ada dalam tubuh kita, maupun energi negatif yang ada di sekitar kita.

Karena energi kasih ini tingkatannya sangat tinggi, energi ini dapat menyehatkan tubuh. Aliran darah menjadi lancar. Kadar gula, asam urat, kolesterol, dan asam lambung, serta zat-zat yang lainnya yang berada dalam tubuh manusia menjadi normal. Bahkan, energi kasih ini juga dapat menyembuhkan penyakit, baik penyakit pada tubuh kita sendiri, maupun penyakit pada tubuh orang lain. Dengan memancarkan energi kasih seseorang dapat menetralkan energi-energi yang dimiliki orang lain. Hal ini sangat tergantung dengan seberapa kuat pancaran energi kasih yang dihasilkan seseorang.

Energi kasih ini bahkan dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia serumit apapun itu. Dengan mengucapkan bahwa Anda mengasihi problem yang menimpa diri Anda, inspirasi akan timbul sebagai jalan untuk mendapatkan solusinya. Silakan dibuktikan.

Ajaran Mudita mengarahkan umat Hindu agar senantiasa bergembira dalam hidup ini. Perasaan gembira akan membuat hidup lebih bergairah. Aliran darahpun akan semakin lancar. Sebaliknya, jika kita dirundung kesedihan, dampaknya tidak bagus buat kesehatan tubuh. Rasa sedih akan memancarkan energi negatif, tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada tubuh kita sendiri. Sirkulasi darah menjadi terganggu. Kandungan zat-zat yang diperlukan tubuh menjadi tidak normal. Hal ini akan mengundang datangnya berbagai penyakit pada tubuh.

Bergembira maupun bersedih merupakan pilihan hidup. Kita sebagai manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Oleh karena itu, meminjam istilah dari sebuah iklan minuman, apapun kejadiannya, perasaan kita tetap: BERGEMBIRA. Inilah ajaran Mudita.

Setelah ketiga ajaran tersebut kita terapkan dalam hidup sehari-hari, rasanya kurang lengkap jika kita tidak melaksanakan ajaran Catur Paramitha yang terakhir, yakni Upeksa yang berarti hendaknya kita senantiasa menghargai orang lain. Penghargaan terhadap orang lain merupakan sikap yang patut dikembangkan.

Salah satu kebutuhan hidup manusia adalah perasaan dihargai. Dengan menghargai orang lain, kita sudah ikut memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya. Penghargaan merupakan salah satu bentuk pemberian (dana) yang tak ternilaikan. Kalau kita ingin dihargai orang lain, maka tindakan utama yang harus dilakukan adalah menghargai orang lain.

Demikianlah ajaran Catur Paramitha merupakan ajaran yang sangat adhiluhung yang patut kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 12 Oktober 2009

Hari Raya Galungan: Hari Merayakan Kesuksesan

Om Suastiastu,

Sebentar lagi umat Hindu Indonesia yang berada di seluruh dunia merayakan Hari Raya Galungan. Perayaan ini merupakan bentuk rasa syukur umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemenangan yang diraihnya selama ini. Bagaimana umat Hindu memaknai hari kemenangan ini dalam konteks kehidupan sehari-hari?

Kemenangan dalam hal tertentu berarti kesuksesan. Kesuksesan bermakna pencapaian-pencapaian yang telah berhasil didapat atau diraih. Seseorang dikatakan sukses apabila dia berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Misalnya seorang pembalap ingin menjadi juara pertama dalam sebuah kejuaraan. Pada saat juara satu benar-benar digondolnya, maka orang tersebut dapat dikatakan sudah sukses.

Demikian juga seorang pengendara sepeda motor ketika mengendarai sepeda motornya di jalan raya menjumpai genangan air yang cukup tinggi yang menghadang perjalanannya. Keinginan dia saat itu hanya satu, yakni berhasil melewati genangan tersebut dengan selamat. Jika dia berhasil melewatinya, maka dia dapat disebut telah sukses menyeberangi genangan air, walaupun air yang tergenang cukup tinggi.

Contoh paling sederhana dapat ditunjukkan ketika seorang anak TK diajarkan cara menggunting kertas. Anak tersebut kemudian diminta untuk menggunting selembar kertas. Begitu si anak TK tersebut berhasil memotong kertas menjadi dua bagian dengan menggunakan gunting, maka dia sudah bisa disebut sukses menggunting kertas tersebut.

Sebenarnya sangat banyak kesuksesan yang telah kita raih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kita sering kali tidak mengakuinya, apalagi merayakannya. Hal ini terjadi karena kita sering terlalu tinggi memberikan standar kesuksesan. Kesuksesan seseorang sering dikaitkan dengan kepemilikan harta yang banyak ataupun jabatan yang tinggi. Pandangan seperti ini menyebabkan kita tidak menyadari bahwa sejatinya kita sudah sukses. Setiap pencapaian, sekecil apapun, adalah kesuksesan. Akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil akan membentuk kesuksesan yang lebih besar.

Melalui perayaan Hari Raya Galungan kali ini, kita sesungguhnya dilatih untuk mengakui bahwa kita sejatinya sudah sukses. Kita dilatih untuk senantiasa bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan yang sudah diraih. Pengakuan kesuksesan dengan cara bersyukur ini diyakini akan mengundang lebih banyak lagi bentuk kesuksesan yang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu hukum alam (Rta) yang berlaku universal dan netral, yakni Law of Attraction (Hukum Ketertarikan).

Menurut Hukum Ketertarikan, apa yang kita pikirkan secara fokus akan mampu menarik hal-hal serupa dari alam semesta. Kalau kita memikirkan kesuksesan secara fokus, maka kita akan menarik kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Terlebih-lebih kita bisa mensyukurinya. Rasa syukur akan kesuksesan yang telah kita raih merupakan bentuk ekspresi bahwa kita sudah sukses. Dengan kata lain, mensyukuri kesuksesan berarti kita memproklamasikan kepada alam semesta dan alam bawah sadar bahwa kita sudah sukses. Hal ini akan menarik hal-hal yang ada dalam alam semesta untuk mendukung kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan yang lain yang mungkin lebih besar dari kesuksesan yang telah diraih sebelumnya.

Sebaliknya, apabila kita tidak mau mengakui kesuksesan yang telah diraih, bahkan mengeluhkan kegagalan-kegagalan yang dialami, maka hal ini akan mengundang (menarik) bentuk kegagalan-kegagalan yang lainnya. Ingatlah bahwa dengan mengeluh, kita sejatinya telah mengundang dan menarik hal-hal yang dikeluhkan untuk terjadi pada diri kita dan terus terjadi.

Di samping itu, mengeluh merupakan salah satu penyakit yang dapat menular. Coba perhatikan dan renungkan jika ada orang yang mengeluhkan sesuatu kepada kita. Setelah orang itu mengeluarkan keluhannya, biasanya kita akan bersimpati kepadanya. Tanpa disadari, kita pun akan ikut mengeluhkan sesuatu sebagai ungkapan bentuk rasa simpati kita terhadap dirinya.

Karena kita tahu bahwa di samping merupakan penyakit menular, mengeluh dapat menarik semakin banyak hal-hal yang kita keluhkan untuk terjadi dan terus terjadi pada kita, marilah kita melatih diri untuk sedapat mungkin menghindar dari aktivitas mengeluh ini. Sebagai lawan dari mengeluh, marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi atas kesuksesan-kesuksesan, sekecil apapun, yang telah kita raih.

Selama bertahun-tahun kita sudah merayakan Hari Raya Galungan dan selama itu pula kita memaknainya sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma. Terkadang kita tidak dapat mendefinisikan secara jelas, kemenangan yang mana yang kita rayakan. Untuk itu, marilah kita maknai Hari Raya Galungan sebagai hari kemenangan yang berarti pula sebagai hari merayakan kesuksesan-kesuksesan yang telah berhasil diraih. Dengan merayakan dan angayubagia (bersyukur) atas kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih, hal ini akan menarik lebih banyak lagi kesuksesan-kesuksesan yang lain, bahkan kesuksesan-kesuksesan yang lebih besar.

Akhirnya, Selamat Hari Raya Galungan. Selamat Merayakan Kesuksesan. Yakinlah, kesuksesan demi kesuksesan sudah menanti Anda.
Om Shanti Shanti Shanti Om.

Selasa, 15 September 2009

Gamelan Bali

Om Suastiastu,

Sambil mendalami ajaran Hindu, alangkah baiknya jika diiringi dengan suara gambelan gong, baik itu berupa Tabuh Kreasi Baru, maupun Tabuh Lelambatan. Untuk itu, saya persilakan Anda untuk mengunduh beberapa file di bawah ini.

TABUH LELAMBATAN

1. Tabuh Pat Jagul

2. Tabuh Pat Semarandana

3. Tabuh Merak Kuning

4. Tabuh Gilak

5. Tabuh Pat Subandar

6. Tabuh Lelambatan


GONG KEBYAR

1. Kebyar Labuh Tiga

2. Kebyar Jengah Erang

3. Kreasi Baru Gita Kesuma

Kamis, 10 September 2009

Untuk Siapa Kita Berdana Punia?

Seorang wanita yang kebetulan adalah karyawati perusahaan swasta di Jakarta, ngomel terus di hadapan suaminya saat sehabis membaca sebuah berita di koran. Berita tersebut rupanya sangat menyesakkan dadanya. "Ayah, coba baca berita di koran ini!" pintanya kepada sang suami. "Selama ini percuma saya telah memberikan uang kepada pengemis di jalanan." Menurut berita itu, rupanya uang itu diserahkan kepada koordinatornya dan oleh sang koordinator uang hasil mengemis itu digunakan untuk foya-foya.

"Sudahlah, Ibu tidak usah uring-uringan seperti itu! Dulu katanya ikhlas memberi kepada mereka, para pengemis. Mengapa sekarang diributkan?". Sang suami mencoba menenangkan istrinya.

Kamis, 03 September 2009

Catur Warna: Benarkah Menghambat Perkembangan Hindu?

Om Suastiastu,

Sehabis menyantap hidangan makan malam di meja makan, seorang anak menanyakan sesuatu kepada ayahnya, seorang pengusaha sukses. “Ayah, apakah yang dimaksud dengan Catur Paramita? Terdiri dari apa saja dan apakah artinya masing-masing?” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari mulut anaknya, sang ayah buru-buru menjawab. “Nak, sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan kepada guru agama di Pura. Mereka pasti lebih tahu daripada Ayah. Lagi pula, Ayah selama ini sibuk terus dengan urusan bisnis, sehingga tidak sempat mempelajari hal-hal seperti itu?”

Pada kesempatan lain, seorang pejabat penting di sebuah departemen yang kebetulan beragama Hindu diminta untuk memberikan Dharma Wacana dalam sebuah arisan keluarga. “Waduh, mohon maaf, saya belum bisa memberikan Dharma Wacana. Pemahaman agama saya masih kurang, belum seberapa dibandingkan dengan yang lain. Undang saja orang dari Departemen Agama, dari Parisada, ataupun Ida Pedanda sekalian supaya lebih mantap.”

Kedua fenomena di atas mungkin bisa menjadi gambaran yang mewakili sebagian umat Hindu yang hingga kini masih banyak yang tidak tertarik untuk mendalami ajaran Hindu. Jangankan mendalami, sekadar membaca-baca buku yang bernafaskan Hindu saja mungkin mereka tidak tertarik. Di mana sesungguhnya letak permasalahannya? Apakah ajaran Hindu memang tidak menarik? Ataukah cara penyajiannya yang kurang menarik? Jangan-jangan ada sesuatu yang menjadi penghambatnya.

Dalam agama Hindu terdapat ajaran Catur Warna yang selama ini dimaknai sebagai pembagian tugas dalam masyarakat yang terdiri dari empat bidang, yakni Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Brahmana adalah golongan masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya mengantarkan upacara keagamaan, mendalami ajaran Hindu, serta melakukan pembinaan kerohanian kepada umat Hindu. Termasuk kelompok ini adalah para Sulinggih, Pinandita, dan guru agama Hindu.

Ksatria adalah golongan masyarakat yang bertugas melindungi masyarakat serta menjalankan pemerintahan. Para birokrat beserta jajarannya termasuk dalam golongan ini. Pada jaman dahulu yang termasuk golongan ini adalah raja, patih, punggawa, dan sejenisnya.

Kalau Ksatria bertugas menggerakkan roda pemerintahan, golongan Wesya adalah kelompok masyarakat yang bertugas menggerakkan roda perekonomian. Yang masuk kelompok ini adalah para pengusaha, pedagang, dan sejenisnya. Terakhir, golongan Sudra adalah golongan masyarakat yang bertugas melayani ketiga golongan di atas.

Penjelasan makna dari Catur Warna seperti di atas merupakan pemaknaan yang telah menjadi pegangan sebagian besar umat Hindu di Indonesia selama ini. Disadari atau tidak, pemaknaan demikian telah membagi dan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan peran masing-masing golongan. Seperti contoh percakapan di atas, karena merasa dirinya seorang pengusaha yang termasuk kategori Wesya, orang tersebut merasa tidak perlu mendalami ajaran Hindu. Dia sudah merasa cukup berperan sebagai seorang Wesya. Urusan agama sudah ada yang menangani, yakni para guru agama Hindu di sekolah yang termasuk golongan Brahmana.

Demikian juga dengan fenomena pejabat tadi. Walaupun kariernya sebagai birokrat tergolong moncer, tetapi dia merasa minder dalam urusan ajaran agama. Sebenarnya peran sebagai seorang Ksatria sudah dijalaninya dengan sukses. Di samping sudah terbiasa memimpin rapat-rapat penting, pejabat tersebut juga dapat dengan lancarnya memberikan pengarahan-pengarahan kepada anak buahnya. Bahkan, wacana tentang nilai-nilai kehidupan terkadang muncul juga di sela-sela pengarahannya. Hal ini berarti pejabat tadi sesungguhnya sudah mumpuni untuk memberikan Dharma Wacana. Berbagai pengalaman sepanjang kariernya sebagai birokrat, jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran yang dimiliki agama Hindu, merupakan bahan Dharma Wacana bagus yang dapat menginspirasi umat Hindu lainnya. Akan tetapi, akibat penghayatan terhadap Catur Warna yang telah melekat selama ini, pejabat tadi tidak tertarik untuk mempelajari agama karena mendalami ajaran agama adalah tugas seorang Brahmana.

Apakah kondisi tersebut akan kita biarkan terus berlangsung? Jawabannya pasti tidak. Untuk itu, marilah kita telusuri kembali secara cermat apa sesungguhnya makna Catur Warna.

Catur Warna sejatinya adalah empat warna atau fungsi yang melekat pada diri seseorang. Keempatnya melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh adalah seorang ayah. Peran (fungsi) Brahmana wajib dilakoninya dalam rangka memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan agama anaknya. Seorang ayah mesti ikut mengajarkan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya. Kalau selama ini pendidikan agama Hindu diserahkan begitu saja kepada guru-guru agama, baik di sekolah maupun di Pesraman (Pura), maka mulai saat ini sebaiknya seorang ayah mulai ikut mengambil peran dan bertanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak-anaknya. Peran Brahmana yang seharusnya melekat pada dirinya yang selama ini seolah-olah terabaikan, sebaiknya berangsur-angsur mulai dijalankan.

Di samping sebagai Brahmana, seorang ayah adalah juga seorang Ksatria. Dia adalah seorang kepala keluarga, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab mengarahkan tujuan berumah tangga. Jiwa kepimpinan mesti dimiliki seorang ayah, sehingga mampu mengarahkan perjalanan hidup anggota keluarga lainnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Seorang ayah adalah juga seorang Wesya yang bertanggung jawab memperoleh penghasilan untuk kelancaran perekonomian keluarga. Peran Wesya sangat sentral dalam keluarga. Ayahlah seharusnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi finansial keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang mapan akan mampu menghantarkan keluarga menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Warna Sudra merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang ayah. Ayah harus bisa melayani kepentingan istri, anak, serta anggota keluarga lainnya. Peran sebagai pelayan bukan berarti merendahkan martabat seseorang. Melayani orang lain sejatinya adalah melayani diri sendiri. Aktivitas melayani akan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang menyehatkan.

Berdasarkan uraian di atas, jelas-jelas terlihat bahwa Catur Warna melekat pada diri seseorang dan mesti dijalankan keempatnya, walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Khusus untuk Warna Brahmana, marilah kita mulai mendalami ajaran agama Hindu sebaik-baiknya. Mari kita maknai ajaran agama kita, sehingga dengan makna tersebut bisa mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera. Berdasarkan pemahaman yang kita dapatkan, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Di samping kepada anak-anak kita, pemahaman yang diperoleh tersebut dapat juga disampaikan kepada orang lain, baik di sampaikan secara langsung, maupun lewat tulisan. Yakinlah, apa yang kita sampaikan akan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Om Shanti Shanti Shanti Om