Om Suastiastu,
Hari ini, selama dua puluh empat jam, umat Hindu merayakan pergantian Tahun Saka. Menariknya, kedatangan tahun baru tidak disambut dengan gegap gempita, apalagi pesta pora. Sebaliknya, umat Hindu menyambutnya dengan suasana hening nan sepi. Itulah sebabnya, pergantian Tahun Saka ini lebih dikenal dengan Hari Raya Nyepi.
Dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), tidak menyalakan api (amati gni), dan tidak mengumbar kesenangan (amati lelanguan), terciptalah suasana sepi dan hening di dalam keluarga. Ditambah lagi dengan mona brata (tidak berbicara) dan upawasa (puasa makan dan minum), maka semakin khidmatlah suasana penyambutan tahun baru tersebut.
Suasana yang hening, sepi, dan penuh kedamaian adalah momen yang sangat istimewa untuk melakukan perenungan. Dalam perenungan kita dapat melakukan kilas balik dan reviu terhadap perjalanan satu tahun yang lewat. Dengan merenung kita dapat menyusun rencana-rencana perjalanan satu tahun ke depan.
Dari berita media massa kita mengetahui bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami disorientasi nilai-nilai. Beberapa elite politik korup, masyarakat gampang marah, serta aparat negara kerap bertindak brutal.
Rasa damai di hati seakan-akan telah menjadi barang langka. Di panggung politik sering terjadi kegaduhan. Para politisi kurang memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Di masyarakat pun sering terjadi gesekan antar etnis yang kadang dipicu oleh hal-hal yang sepele.
Bagaimana cara menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan rasa damai di hati? Bagaimana pula caranya mengembangkan harmoni di tengah-tengah keberagaman bangsa Indonesia?
Dalam Kitab Suci Weda terdapat satu ajaran yang disebut Tat Twam Asi. Konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa antara Anda dan saya adalah sama. Dalam bahasa sederhana ajaran ini memberi tahu kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Mengapa? Karena sejatinya kita adalah sama. Jika kita ingin diperlakukan secara sopan, maka berlakulah sopan terhadap orang lain. Jika kita ingin dihormati orang lain, hormatilah orang tersebut. Apabila pendapat kita ingin dihargai, maka biasakan untuk menghargai pendapat orang lain terlebih dahulu.
Penjabaran lebih lanjut dari ajaran Tat Twam Asi adalah ajaran Catur Paramitha, yaitu empat perilaku yang utama yang hendaknya dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, sebagai umat Hindu kita diajarkan untuk memandang setiap orang sebagai seorang sahabat (Maitri). Siapapun orang itu, perlakukanlah sebagai seorang sahabat. Layaknya seorang sahabat, maka kita akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk mereka.
Yang kedua disebut Karuna, yakni hendaknya kita senantiasa mengasihi setiap orang. Jika kita sudah memperlakukan orang lain sebagai seorang sahabat, sifat mengasihi sangat diperlukan untuk memelihara jalinan persahabatan tersebut. Energi kasih yang kita pancarkan mampu menyapu bersih energi-energi negatif yang muncul.
Bagian ketiga dari ajaran ini adalah Mudita, yaitu berperilaku riang gembira dan mampu menyenangkan orang lain. Perasaan riang gembira dalam diri diyakini dapat membuat orang lain menjadi senang. Kegembiraan diri kita dapat menular kepada orang lain.
Bagian terakhir dari Catur Paramitha adalah Upeksa yang artinya menghargai dan menghormati orang lain. Di samping kita diajarkan untuk menghargai pendapat-pendapat orang lain dan menaruh rasa hormat kepada orang lain, kita juga hendaknya sering-sering memberikan penghargaan berupa pujian kepada orang lain. Dengan pujian, orang akan lebih terpacu untuk meningkatkan prestasi yang pernah diraihnya.
Apabila ajaran luhur ini kita implementasikan pada kehidupan sehari-hari, kita menjadi terbiasa memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Kita selalu menghormati orang lain, menyayangi, dan memberikan sesuatu yang terbaik. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita menjadi senang, menyayangi, menghormati, dan memberikan sesuatu yang terbaik juga. Akhirnya, terjadilah jalinan persahabatan, persaudaraan, saling menghargai, dan saling mengasihi. Jalinan kasih ini mampu menembus sekat-sekat agama, etnis, maupun golongan.
Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat salah pada diri kita? Karena kita sudah menjadi sahabat dan saling menyayangi, kesalahan orang tersebut dengan sangat mudah kita maafkan. Memaafkan sejatinya membebaskan diri kita dari beban kebencian. Memaafkan bukanlah hadiah yang kita berikan kepada orang lain, melainkan hadiah untuk diri sendiri.
Agar bisa menjalin persahabatan dengan orang lain, pertama-tama kita mesti bersahabat dengan diri sendiri, mengasihi diri sendiri, dan berdamai dengan diri sendiri. Tanpa semua itu, rasanya tidak mudah untuk harmonis dengan orang lain. Apabila relasi dengan diri sendiri mengalami gangguan, hubungan dengan orang lain pun menjadi terganggu. Pendek kata, syarat utama untuk bisa harmonis dengan orang lain adalah harmonis dengan diri sendiri.
Marilah pergantian Tahun Baru Saka 1935 ini kita jadikan momen untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri. Jika selama ini kita sering menyalahkan diri sendiri, marah, kesal, maupun kecewa dengan diri kita sendiri, marilah kita maafkan diri kita. Mari kita berdamai dan meningkatkan jalinan persahabatan dengan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita bisa meningkatkan kualitas relasi dengan orang lain, tanpa membeda-bedakan suku, agama, etnis, maupun golongan. Di tengah-tengah keberagaman bangsa Indonesia kita bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis.
Selamat Hari Raya Nyepi – Tahun Baru Saka 1935.
*Tulisan ini sudah dikirim ke Koran Sindo untuk diterbitkan Selasa, 12 Maret 2013 (Hari Raya Nyepi)...
AJARAN HINDU
Memaknai Kembali Ajaran Hindu Untuk Menuju Kehidupan Yang Lebih Bahagia (Jagadhita)
Kamis, 14 Maret 2013
Senin, 27 Agustus 2012
MARI MERAYAKAN KEMENANGAN
DHARMA
Om Suastiastu,
Kadek Dharmaputera adalah seorang
mahasiswa semester akhir sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Jakarta.
Sudah hampir empat tahun dia telah meninggalkan Pulau Dewata merantau ke
Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang menjadi
incarannya sejak SD. Selama SD hingga bangku SMA, Kadek belajar rajin dan tekun
demi berhasil meraih impiannya kuliah di perguruan tinggi ternama di ibu kota
negara tersebut. Bahkan, sewaktu SMP Kadek pernah menggondol siswa teladan
tingkat provinsi. Berbagai prestasi akademis lainnya pernah juga diraih,
seperti juara 3 olimpiade matematika tingkat nasional. Di bangku kuliah pun
prestasi akademiknya mengagumkan. IP-nya belum pernah di bawah angka 3,5.
Di tengah bergelimang prestasi yang
melingkupi hidupnya Kadek masih menyisakan sedikit kegalauan dalam hatinya. Ganjalan
dalam hatinya tersebut terutama muncul menjelang Hari Raya Galungan, hari yang selama
ini dimaknainya sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan Dharma melawan
Adharma. Hingga saat ini Kadek belum begitu jelas memaknai kemenangan tersebut.
Beberapa pertanyaan justeru mencuat. Kemenangan Dharma yang mana yang harus
dirayakan? Apakah selama ini dia sudah selalu memenangkan Dharma? Apakah dengan
kalahnya Adharma berarti sekarang sudah tidak ada lagi Adharma di dunia ini?
Terakhir, apakah dia sudah layak merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma?
Umat Hindu yang berbahagia,
Untuk mengatasi kegalauan hati Kadek
Dharmaputera, marilah kita melakukan perenungan sejenak untuk melakukan
pendalaman terhadap makna Hari Raya Galungan yang sebentar lagi akan kita
rayakan.
Kemenangan Dharma atas Adharma dalam
perspektif tertentu dapat dimaknai sebagai kemenangan kita mengatasi setiap
rintangan dalam bentuk apapun. Kemenangan dalam mengatasi rintangan merupakan
sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, kemenangan juga berarti kesuksesan. Secara
sederhana kesuksesan mengandung makna sebagai pencapaian-pencapaian yang telah
berhasil didapat atau diraih. Seseorang dikatakan sukses apabila dia berhasil
mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Dalam cerita di awal tadi, Kadek
Dharmaputera ingin menamatkan kuliah sarjananya dalam waktu empat tahun. Apabila
dia benar-benar bisa menuntaskan kuliahnya dalam waktu empat tahun, maka dia
dapat dikatakan sudah sukses, yakni telah sukses menamatkan kuliah dalam waktu
empat tahun.
Setiap hari Kadek mempunyai keinginan
agar di pagi hari tiba di kampus sebelum pukul 07.30 WIB agar tidak terlambat
mengikut jadwal kuliah. Karena jalan raya di Jakarta pada pagi hari penuh
dengan kendaraan yang melintas, maka kemacetan di pagi hari tidak bisa
dihindarkan. Agar bisa sampai di kampus sebelum pukul 07.30, maka Kadek harus
berangkat pagi-pagi dari tempat tinggalnya. Jika tiba di kampus sebelum pukul
07.30 pagi, maka dia sudah berhasil mencapai apa yang menjadi keinginannya. Dia
sudah sukses sampai di kampus sebelum pukul 07.30 pagi.
Contoh paling sederhana dapat
ditunjukkan ketika Kadek ingin menggunting kertas menjadi empat bagian. Kadek
mengambil gunting dan mulai memotong kertas menjadi empat bagian. Begitu Kadek
berhasil menggunting kertas menjadi empat potongan (bagian), maka dia sudah
bisa disebut sukses dalam menggunting kertas menjadi empat bagian.
Sebenarnya sangat banyak kesuksesan yang
telah kita raih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kita sering kali
tidak menyadarinya, apalagi merayakannya. Dalam contoh cerita di atas, Kadek
Dharmaputera sebenarnya sudah banyak meraih kemenangan. Berbagai kemenangan
telah diraihnya mulai dari SD hingga bangku kuliah. Dari kemenangan-kemenangan
kecil, seperti tepat waktu sampai di kampus, hingga kemenangan-kemanangan
besar, seperti beberapa prestasi akademis yang telah diraihnya selama ini.
Ada dua hal yang menjadi penyebab
mengapa kita tidak menyadari berbagai kesuksesan/kemenangan yang telah kita
raih. Pertama, kita lebih fokus pada hal-hal yang tidak berhasil kita lakukan.
Dengan lebih berfokus pada kegagalan, kesuksesan/kemenangan yang telah diraih
tidak begitu terasa karena tertutupi oleh pikiran-pikiran tentang kegagalan.
Penyebab kedua adalah karena kita sering
terlalu tinggi memberikan standar kesuksesan. Kesuksesan seseorang sering
dikaitkan dengan kepemilikan harta yang banyak ataupun jabatan yang tinggi. Orang
baru dikatakan suskes apabila hartanya berlimpah ataupun berhasil menduduki
jabatan prestisius. Pandangan seperti ini menyebabkan kita tidak menyadari
bahwa sejatinya kita sudah sukses. Padahal, setiap pencapaian, sekecil apapun,
adalah kesuksesan. Akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil akan membentuk
kesuksesan yang lebih besar.
Melalui perayaan Hari Raya Galungan,
kita sesungguhnya dilatih untuk mengakui bahwa kita sejatinya sudah sukses. Berbagai
kemenangan sudah kita raih. Setelah mengakui pencapaian kemenangan ini, kita
juga dilatih untuk senantiasa bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan yang sudah
diraih.
Umat Hindu yang berbahagia,
Mengapa kita perlu bersyukur atas
kesuksesan ini? Pengakuan kesuksesan dengan cara bersyukur diyakini dapat mengundang
lebih banyak lagi bentuk kesuksesan yang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu
hukum alam (Rta) yang berlaku universal dan netral, yakni Law of Attraction (Hukum Daya Tarik).
Berdasarkan Hukum Daya Tarik (Law of Attraction), apa yang kita
pikirkan secara fokus akan mampu menarik hal-hal serupa dari alam semesta. Kalau
kita memikirkan kemenangan, maka kita akan menarik kemenangan-kemenangan berikutnya.
Terlebih-lebih kita bisa mensyukurinya. Perasaan syukur terhadap kemenangan/kesuksesan
yang telah kita raih merupakan bentuk ekspresi bahwa kita sudah meraih
kemenangan/sukses. Dengan kata lain, mensyukuri kemenangan/kesuksesan berarti
kita memproklamasikan kepada alam semesta dan alam bawah sadar bahwa kita sudah
sukses. Hal ini akan menarik hal-hal yang ada dalam alam semesta untuk
mendukung kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan/kemenangan yang lain yang
mungkin lebih besar dari kesuksesan/kemenangan yang telah diraih sebelumnya.
Melalui Hari Raya Galungan marilah kita mengakui
berbagai kemenangan yang sudah kita raih untuk kemudian kita angayubagia
(bersyukur) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mari kita mengucapkan terima kasih
kehadapan Hyang Widhi Wasa atas serangkaian kesuksesan/kemenangan yang sudah
kita capai.
Umat Hindu yang berbahagia,
Selamat Hari Raya Galungan. Selamat
Merayakan Kesuksesan. Selamat Merayakan Kemenangan Dharma. Semoga kita tambah
sukses dan semakin sukses di masa-masa yang akan datang.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Minggu, 22 Januari 2012
Hari Siwaratri: Membebaskan Diri dari Dosa
Om Suastiastu,
Dua orang karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari dua perusahaan yang berbeda. Keduanya diberhentikan dari kerjanya karena melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi perusahaannya masing-masing. Yang satu, sebutlah namanya Made Teruna adalah Manajer Pembelian sebuah hypermarket terkenal di Jakarta. Dia memegang peranan sangat penting karena dari dirinyalah berasal keputusan-keputusan penting tentang pembelian sebuah produk untuk kemudian dipajang di hypermarket tersebut. Sementara itu, Nyoman Teruni adalah Manajer Pemasaran pada sebuah perusahaan distributor alat kesehatan. Tugasnya adalah mengatur strategi pemasaran, sekaligus mendapatkan pelanggan produk yang dijual perusahaannya.
Suatu hari Made Teruna berjumpa dengan kawan lamanya. Rupanya kawan lamanya ini sekarang adalah seorang pemasok buah dan sayur, tetapi bisnisnya ini baru dijalani sekitar enam bulan. Karena tahu Made Teruna adalah orang penting di bagian pembelian, maka dia berusaha mempengaruhi Made Teruna agar mau membeli buah dan sayur dari dirinya. Awalnya Made Teruna berusah mengelak karena selama ini dia sangat selektif dalam memilih pemasok, apalagi pemasok buah dan sayur. Pemasok yang terpilih biasanya adalah pemasok yang telah mempunyai pengalaman lebih dari dua tahun dengan rekam jejak yang sangat baik. Karena kawannya ini terus mendesak, akhirnya dia memutuskan berpindah pemasok. Kawannya ini menjadi pemasok tunggal untuk memasok buah dan sayuran ke hypermarket tersebut, sedangkan pemasok-pemasok lama ditinggalnya begitu saja.
Seiring berjalannya waktu, permasalahan mulai bermunculan. Pasokan sayuran sering terlambat, demikian juga dengan buah-buahan. Di samping sering terlambat, kualitas buah dan sayur juga lama-lama semakin menurun. Pelanggan yang biasanya sangat senang dan antusias berbelanja, lama-kelamaan mulai kesal karena menjumpai kualitas buah dan sayur yang kurang baik, serta sering sudah kehabisan persediaan. Akhirnya, banyak pelanggan yang beralih ke hypermarket lain yang menawarkan buah dan sayur yang lebih segar dan mutunya bagus.
Pimpinan hypermarket tersebut akhirnya bertindak, melakukan investigasi, dan menemukan bahwa pemasok baru yang kinerjanya buruk tersebut adalah kawan dari Made Teruna. Sang pimpinan sangat geram dan secara sepihak memecat Made Teruna. Walaupun secara berulang-ulang Made Teruna telah meminta maaf, tetapi keputusannya untuk mem-PHK sudah final dan tidak bisa diganggu gugat.
Kejadian yang hampir sama menimpa Nyoman Teruni. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Manajer Pemasaran, Nyoman Teruni berkenalan dengan seorang pengusaha muda yang masih mempunyai hubungan famili dengannya. Pengusaha muda ini kebetulan masih lajang dan berwajah ganteng, sementara Nyoman Teruni, walaupun usianya hampir menginjak kepala tiga, tetapi juga belum mendapatkan jodoh. Melihat penampilannya, rupanya Nyoman Teruni mulai jatuh cinta pada pengusaha muda tersebut. Rupanya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka akhirnya berpacaran.
Beberapa lama kemudian pengusaha muda itu ingin menjadi agen alat kesehatan. Dia merayu pacarnya agar perusahaannya bisa menjadi agen alat kesehatan dan bisa membeli secara kredit. Sebagai pacar, tanpa pikir panjang, Nyoman Teruni setuju menjual alat kesehatan dalam jumlah banyak kepada perusahaan pacarnya itu, dengan jangka waktu pembayaran yang cukup longgar.
Entah kenapa, pengusaha muda itu mulai berpikir tidak baik. Kepercayaan pacarnya disia-siakan. Utang yang jumlahnya besar tersebut tidak dibayarnya ketika jatuh tempo. Nyoman Teruni sudah berusaha sekuat tenaga untuk menagih, tetapi tetap saja tidak dilunasi, malahan pacarnya kabur ke kota lain tanpa pamit. Akibat piutang ini tidak tertagih, cash flow perusahaan menjadi sangat terganggu, dan nyaris kolaps. Pimpinan perusahaan turun tangan mengadakan penyelidikan. Akhirnya, diketahui bahwa pengusaha muda yang kabur dengan utang besar itu adalah pacar Nyoman Teruni. Walaupun Nyoman Teruni sudah memohon maaf, tetapi surat pemecatan tetap keluar.
Umat Hindu yang berbahagia,
Kejadian yang dialami oleh Made Teruna dan Nyoman Teruni adalah sama, yakni sama-sama dipecat dari tempat kerjanya. Yang berbeda adalah bagaimana keduanya menyikapi kejadian yang sama tersebut.
Made Teruna di-PHK gara-gara perbuatan kawan lamanya. Dia menyalahkan dan sangat membenci kawannya tersebut. Dia juga membenci bossnya yang telah berlaku tidak adil terhadap dirinya. Sedikit pun sang boss tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk membela diri. Rasa benci juga dia arahkan kepada dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia dulu begitu percaya pada kawan lamanya itu.
Rasa bersalah pada diri sendiri, rasa benci pada kawannya, dan perasaan benci kepada mantan bossnya terus dipendamnya, serta dibawanya ke mana-mana. Setelah dipecat dari hypermarket tersebut, tidak berselang berapa lama, Made Teruna diterima bekerja disebuah perusahaan jasa keuangan. Akibat dari beban rasa bersalah dan beban kebencian, kinerjanya di perusahaan baru tidak begitu bagus. Dia pun sering mendapat omelan dari atasannya. Dalam keseharian pun Made Teruna sering murung, kurang ceria, dan menjadi pendiam.
Lain halnya dengan Nyoman Teruni. Walaupun dia dipecat, sama sekali dia tidak membenci mantan bossnya itu. Dia mengakui kesalahannya dan sudah bisa memaafkan kesalahan dirinya. Dia segera memutuskan pacarnya, walaupun hanya lewat sms. Sedikitpun dia tidak menaruh perasaan benci kepada mantan pacarnya. Dia sudah bisa memaafkan mantan pacarnya itu.
Kejadian yang telah menimpa dirinya sama sekali tidak menjadi beban. Dengan entengnya dia kembali mendapatkan pekerjaan, bahkan dengan posisi yang sama, yakni sebagai manajer. Kinerjanya terus meningkat, sama sekali tidak tercermin bahwa sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis.
Umat Hindu yang Bebahagia,
Apa hubungan kisah di atas dengan pelaksanaan Siwaratri?
Melalui perayaan Hari Siwaratri umat Hindu diajarkan dan dilatih untuk membebaskan diri dari dosa. Apa itu dosa? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua pengertian dosa, yakni (i) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama; dan (ii) perbuatan salah. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, saya mengartikan dosa sebagai kesalahan atau rasa bersalah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita, maupun kesalahan yang kita perbuat sendiri. Kesalahan yang diperbuat orang lain sering kali membuat diri kita menjadi sakit hati dan menyebabkan kita membenci orang itu. Rasa benci itu akan terus membebani kita. Cara terbaik untuk membebaskan diri dari kebencian kepada orang lain akibat kesalahan yang dilakukannya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri kita dari beban kebencian. Dengan memaafkan kita melepaskan kesalahan orang dari hati kita. Sepanjang kita belum memaafkan, maka orang itu akan menempati relung hati kita dengan gratis. Setelah berhasil memaafkan, maka hati menjadi plong, tanpa beban.
Kalau dikaitkan dengan kisah di atas, maka tindakan Nyoman Teruni yang sudah berhasil memaafkan kesalahan mantan pacarnya adalah tindakan untuk membebaskan dirinya dari beban kebencian. Walaupun sempat kesal atas perbuatan mantan pacarnya, karena dia sudah memaafkan, maka dengan sendirinya dia sudah melepaskan kesalahan mantan pacarnya itu. Perbuatan mantan pacarnya itu tidak lagi menjadi beban yang menggelayuti perjalanan hidupnya ke depan.
Akibat yang berlawanan diperoleh Made Teruna. Dia tidak bisa membebaskan diri dari rasa benci kepada kawannya ataupun kepada mantan bossnya. Rasa benci itu dia pendam terus, sehingga malahan menjadi beban yang terus dipikulnya ke mana-mana. Sama sekali dia tidak berusaha memaafkan, bahkan terus membencinya. Hal ini justeru berdampak negatif pada dirinya.
Bagaimana kalau kita yang berbuat salah kepada orang lain. Apakah cukup dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan? Ternyata tidak. Meminta maaf saja tidak cukup. Walaupun orang lain sudah memaafkan kesalahan kita, sepanjang kita sendiri belum memaafkan diri kita, maka rasa bersalah itu akan tetap bercokol di hati dan menggelayuti perjalanan kita dalam menapaki masa depan. Perjalanan kita ke depan akan terseok-seok oleh beban rasa bersalah itu. Untuk membebaskannya, maka kita perlu memaafkan diri sendiri.
Untuk bisa memaafkan diri sendiri diperlukan proses. Pertama-tama kita perlu mengakui bahwa kesalahan itu sudah terjadi dan telah menjadi masa lalu kita. Sesuatu yang telah terjadi tidak bisa kita perbaiki. Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita. Yang dapat kita ubah adalah masa depan kita. Jadikan kesalahan yang sudah terjadi sebagai pelajaran berharga agar di masa yang akan datang kesalahan tersebut tidak terulang lagi. Sepanjang kita belum bisa mengakui dan menerima terjadinya kesalahan tersebut, maka sangat sulit bagi kita untuk melepaskannya. Setelah kita mengakui dan bisa menerima terjadinya kesalahan tersebut, proses berikutnya adalah memaafkan.
Memaafkan diri sendiri memang agak sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Untuk mempercepat proses memaafkan diri sendiri dapat dibantu dengan dua hal. Pertama, dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Dikabulkannya permintaan maaf kita dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri. Tetapi hal itu tidak bersifat mutlak. Kalau pun orang tersebut sudah memaafkan, tetapi kita sendiri belum memaafkan, maka rasa bersalah tersebut masih tetap bercokol dalam hati kita. Demikian juga sebaliknya. Walaupun orang tersebut tidak mau memaafkan, tetapi kita sendiri sudah mau memaafkan diri sendiri, maka kita sudah bisa melepaskan rasa bersalah itu dari hati kita.
Hal kedua yang dapat membantu proses memaafkan diri sendiri adalah dengan meminta maaf (ampun) kepada Hyang Widhi. Dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, maka permohonan maaf kita kepada Hyang Widhi pasti dikabulkan. Perasaan dan keyakinan bahwa permohonan maaf kita dikabulkan akan dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri.
Umat Hindu yang Bebahagia,
Melalui perayaan Hari Siwaratri, marilah kita membebaskan diri dari dosa atau kesalahan, baik itu kesalahan (dosa) orang lain terhadap kita, maupun kesalahan (dosa) diri sendiri terhadap orang lain. Caranya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri dari kesalahan. Dengan memaafkan berarti kita melepaskan kesalahan-kesalahan dari diri kita.
Dengan jagra selama 36 jam kita diajarkan untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi, baik itu kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, maupun kesalahan kita kepada orang lain. Untuk mengidentifikasinya dapat dilakukan dengan menuliskannya dalam kertas. Setelah kita tulis, maka kita akui kejadiannya dan selanjutnya kita maafkan.
Memaafkan sesungguhnya bukan hadiah yang kita berikan kepada orang yang kita maafkan, tetapi merupakan hadiah yang kita berikan kepada diri sendiri.
Memaafkan dapat membebaskan diri dari kesalahan (dosa). Mari kita maafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita, sehingga kita menjadi terbebas dari beban kesalahan itu. Mari kita maafkan diri kita sendiri atas kesalahan yang sudah kita perbuat kepada orang lain. Dengan memaafkan diri sendiri, kita dapat terbebas dari rasa bersalah (dosa).
Dengan terbebas dari rasa bersalah, dengan terlepas dari rasa bersalah, sesungguhnya kita telah mencapai Moksa karena kata moksa berarti bebas atau lepas.
Selamat menjalankan Brata Siwaratri. Selamat membebaskan diri dari dosa (kesalahan). Selamat mencapai moksa.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Dua orang karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari dua perusahaan yang berbeda. Keduanya diberhentikan dari kerjanya karena melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi perusahaannya masing-masing. Yang satu, sebutlah namanya Made Teruna adalah Manajer Pembelian sebuah hypermarket terkenal di Jakarta. Dia memegang peranan sangat penting karena dari dirinyalah berasal keputusan-keputusan penting tentang pembelian sebuah produk untuk kemudian dipajang di hypermarket tersebut. Sementara itu, Nyoman Teruni adalah Manajer Pemasaran pada sebuah perusahaan distributor alat kesehatan. Tugasnya adalah mengatur strategi pemasaran, sekaligus mendapatkan pelanggan produk yang dijual perusahaannya.
Suatu hari Made Teruna berjumpa dengan kawan lamanya. Rupanya kawan lamanya ini sekarang adalah seorang pemasok buah dan sayur, tetapi bisnisnya ini baru dijalani sekitar enam bulan. Karena tahu Made Teruna adalah orang penting di bagian pembelian, maka dia berusaha mempengaruhi Made Teruna agar mau membeli buah dan sayur dari dirinya. Awalnya Made Teruna berusah mengelak karena selama ini dia sangat selektif dalam memilih pemasok, apalagi pemasok buah dan sayur. Pemasok yang terpilih biasanya adalah pemasok yang telah mempunyai pengalaman lebih dari dua tahun dengan rekam jejak yang sangat baik. Karena kawannya ini terus mendesak, akhirnya dia memutuskan berpindah pemasok. Kawannya ini menjadi pemasok tunggal untuk memasok buah dan sayuran ke hypermarket tersebut, sedangkan pemasok-pemasok lama ditinggalnya begitu saja.
Seiring berjalannya waktu, permasalahan mulai bermunculan. Pasokan sayuran sering terlambat, demikian juga dengan buah-buahan. Di samping sering terlambat, kualitas buah dan sayur juga lama-lama semakin menurun. Pelanggan yang biasanya sangat senang dan antusias berbelanja, lama-kelamaan mulai kesal karena menjumpai kualitas buah dan sayur yang kurang baik, serta sering sudah kehabisan persediaan. Akhirnya, banyak pelanggan yang beralih ke hypermarket lain yang menawarkan buah dan sayur yang lebih segar dan mutunya bagus.
Pimpinan hypermarket tersebut akhirnya bertindak, melakukan investigasi, dan menemukan bahwa pemasok baru yang kinerjanya buruk tersebut adalah kawan dari Made Teruna. Sang pimpinan sangat geram dan secara sepihak memecat Made Teruna. Walaupun secara berulang-ulang Made Teruna telah meminta maaf, tetapi keputusannya untuk mem-PHK sudah final dan tidak bisa diganggu gugat.
Kejadian yang hampir sama menimpa Nyoman Teruni. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Manajer Pemasaran, Nyoman Teruni berkenalan dengan seorang pengusaha muda yang masih mempunyai hubungan famili dengannya. Pengusaha muda ini kebetulan masih lajang dan berwajah ganteng, sementara Nyoman Teruni, walaupun usianya hampir menginjak kepala tiga, tetapi juga belum mendapatkan jodoh. Melihat penampilannya, rupanya Nyoman Teruni mulai jatuh cinta pada pengusaha muda tersebut. Rupanya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka akhirnya berpacaran.
Beberapa lama kemudian pengusaha muda itu ingin menjadi agen alat kesehatan. Dia merayu pacarnya agar perusahaannya bisa menjadi agen alat kesehatan dan bisa membeli secara kredit. Sebagai pacar, tanpa pikir panjang, Nyoman Teruni setuju menjual alat kesehatan dalam jumlah banyak kepada perusahaan pacarnya itu, dengan jangka waktu pembayaran yang cukup longgar.
Entah kenapa, pengusaha muda itu mulai berpikir tidak baik. Kepercayaan pacarnya disia-siakan. Utang yang jumlahnya besar tersebut tidak dibayarnya ketika jatuh tempo. Nyoman Teruni sudah berusaha sekuat tenaga untuk menagih, tetapi tetap saja tidak dilunasi, malahan pacarnya kabur ke kota lain tanpa pamit. Akibat piutang ini tidak tertagih, cash flow perusahaan menjadi sangat terganggu, dan nyaris kolaps. Pimpinan perusahaan turun tangan mengadakan penyelidikan. Akhirnya, diketahui bahwa pengusaha muda yang kabur dengan utang besar itu adalah pacar Nyoman Teruni. Walaupun Nyoman Teruni sudah memohon maaf, tetapi surat pemecatan tetap keluar.
Umat Hindu yang berbahagia,
Kejadian yang dialami oleh Made Teruna dan Nyoman Teruni adalah sama, yakni sama-sama dipecat dari tempat kerjanya. Yang berbeda adalah bagaimana keduanya menyikapi kejadian yang sama tersebut.
Made Teruna di-PHK gara-gara perbuatan kawan lamanya. Dia menyalahkan dan sangat membenci kawannya tersebut. Dia juga membenci bossnya yang telah berlaku tidak adil terhadap dirinya. Sedikit pun sang boss tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk membela diri. Rasa benci juga dia arahkan kepada dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia dulu begitu percaya pada kawan lamanya itu.
Rasa bersalah pada diri sendiri, rasa benci pada kawannya, dan perasaan benci kepada mantan bossnya terus dipendamnya, serta dibawanya ke mana-mana. Setelah dipecat dari hypermarket tersebut, tidak berselang berapa lama, Made Teruna diterima bekerja disebuah perusahaan jasa keuangan. Akibat dari beban rasa bersalah dan beban kebencian, kinerjanya di perusahaan baru tidak begitu bagus. Dia pun sering mendapat omelan dari atasannya. Dalam keseharian pun Made Teruna sering murung, kurang ceria, dan menjadi pendiam.
Lain halnya dengan Nyoman Teruni. Walaupun dia dipecat, sama sekali dia tidak membenci mantan bossnya itu. Dia mengakui kesalahannya dan sudah bisa memaafkan kesalahan dirinya. Dia segera memutuskan pacarnya, walaupun hanya lewat sms. Sedikitpun dia tidak menaruh perasaan benci kepada mantan pacarnya. Dia sudah bisa memaafkan mantan pacarnya itu.
Kejadian yang telah menimpa dirinya sama sekali tidak menjadi beban. Dengan entengnya dia kembali mendapatkan pekerjaan, bahkan dengan posisi yang sama, yakni sebagai manajer. Kinerjanya terus meningkat, sama sekali tidak tercermin bahwa sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis.
Umat Hindu yang Bebahagia,
Apa hubungan kisah di atas dengan pelaksanaan Siwaratri?
Melalui perayaan Hari Siwaratri umat Hindu diajarkan dan dilatih untuk membebaskan diri dari dosa. Apa itu dosa? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat dua pengertian dosa, yakni (i) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama; dan (ii) perbuatan salah. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, saya mengartikan dosa sebagai kesalahan atau rasa bersalah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita, maupun kesalahan yang kita perbuat sendiri. Kesalahan yang diperbuat orang lain sering kali membuat diri kita menjadi sakit hati dan menyebabkan kita membenci orang itu. Rasa benci itu akan terus membebani kita. Cara terbaik untuk membebaskan diri dari kebencian kepada orang lain akibat kesalahan yang dilakukannya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri kita dari beban kebencian. Dengan memaafkan kita melepaskan kesalahan orang dari hati kita. Sepanjang kita belum memaafkan, maka orang itu akan menempati relung hati kita dengan gratis. Setelah berhasil memaafkan, maka hati menjadi plong, tanpa beban.
Kalau dikaitkan dengan kisah di atas, maka tindakan Nyoman Teruni yang sudah berhasil memaafkan kesalahan mantan pacarnya adalah tindakan untuk membebaskan dirinya dari beban kebencian. Walaupun sempat kesal atas perbuatan mantan pacarnya, karena dia sudah memaafkan, maka dengan sendirinya dia sudah melepaskan kesalahan mantan pacarnya itu. Perbuatan mantan pacarnya itu tidak lagi menjadi beban yang menggelayuti perjalanan hidupnya ke depan.
Akibat yang berlawanan diperoleh Made Teruna. Dia tidak bisa membebaskan diri dari rasa benci kepada kawannya ataupun kepada mantan bossnya. Rasa benci itu dia pendam terus, sehingga malahan menjadi beban yang terus dipikulnya ke mana-mana. Sama sekali dia tidak berusaha memaafkan, bahkan terus membencinya. Hal ini justeru berdampak negatif pada dirinya.
Bagaimana kalau kita yang berbuat salah kepada orang lain. Apakah cukup dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan? Ternyata tidak. Meminta maaf saja tidak cukup. Walaupun orang lain sudah memaafkan kesalahan kita, sepanjang kita sendiri belum memaafkan diri kita, maka rasa bersalah itu akan tetap bercokol di hati dan menggelayuti perjalanan kita dalam menapaki masa depan. Perjalanan kita ke depan akan terseok-seok oleh beban rasa bersalah itu. Untuk membebaskannya, maka kita perlu memaafkan diri sendiri.
Untuk bisa memaafkan diri sendiri diperlukan proses. Pertama-tama kita perlu mengakui bahwa kesalahan itu sudah terjadi dan telah menjadi masa lalu kita. Sesuatu yang telah terjadi tidak bisa kita perbaiki. Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita. Yang dapat kita ubah adalah masa depan kita. Jadikan kesalahan yang sudah terjadi sebagai pelajaran berharga agar di masa yang akan datang kesalahan tersebut tidak terulang lagi. Sepanjang kita belum bisa mengakui dan menerima terjadinya kesalahan tersebut, maka sangat sulit bagi kita untuk melepaskannya. Setelah kita mengakui dan bisa menerima terjadinya kesalahan tersebut, proses berikutnya adalah memaafkan.
Memaafkan diri sendiri memang agak sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Untuk mempercepat proses memaafkan diri sendiri dapat dibantu dengan dua hal. Pertama, dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Dikabulkannya permintaan maaf kita dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri. Tetapi hal itu tidak bersifat mutlak. Kalau pun orang tersebut sudah memaafkan, tetapi kita sendiri belum memaafkan, maka rasa bersalah tersebut masih tetap bercokol dalam hati kita. Demikian juga sebaliknya. Walaupun orang tersebut tidak mau memaafkan, tetapi kita sendiri sudah mau memaafkan diri sendiri, maka kita sudah bisa melepaskan rasa bersalah itu dari hati kita.
Hal kedua yang dapat membantu proses memaafkan diri sendiri adalah dengan meminta maaf (ampun) kepada Hyang Widhi. Dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, maka permohonan maaf kita kepada Hyang Widhi pasti dikabulkan. Perasaan dan keyakinan bahwa permohonan maaf kita dikabulkan akan dapat mempercepat proses memaafkan diri sendiri.
Umat Hindu yang Bebahagia,
Melalui perayaan Hari Siwaratri, marilah kita membebaskan diri dari dosa atau kesalahan, baik itu kesalahan (dosa) orang lain terhadap kita, maupun kesalahan (dosa) diri sendiri terhadap orang lain. Caranya adalah dengan memaafkan. Dengan memaafkan berarti kita membebaskan diri dari kesalahan. Dengan memaafkan berarti kita melepaskan kesalahan-kesalahan dari diri kita.
Dengan jagra selama 36 jam kita diajarkan untuk mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi, baik itu kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, maupun kesalahan kita kepada orang lain. Untuk mengidentifikasinya dapat dilakukan dengan menuliskannya dalam kertas. Setelah kita tulis, maka kita akui kejadiannya dan selanjutnya kita maafkan.
Memaafkan sesungguhnya bukan hadiah yang kita berikan kepada orang yang kita maafkan, tetapi merupakan hadiah yang kita berikan kepada diri sendiri.
Memaafkan dapat membebaskan diri dari kesalahan (dosa). Mari kita maafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepada kita, sehingga kita menjadi terbebas dari beban kesalahan itu. Mari kita maafkan diri kita sendiri atas kesalahan yang sudah kita perbuat kepada orang lain. Dengan memaafkan diri sendiri, kita dapat terbebas dari rasa bersalah (dosa).
Dengan terbebas dari rasa bersalah, dengan terlepas dari rasa bersalah, sesungguhnya kita telah mencapai Moksa karena kata moksa berarti bebas atau lepas.
Selamat menjalankan Brata Siwaratri. Selamat membebaskan diri dari dosa (kesalahan). Selamat mencapai moksa.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Jumat, 30 Desember 2011
HUKUM KARMA PHALA: SEBUAH REFLEKSI AKHIR TAHUN
Om Suastiastu,
Walau siang itu sang mentari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya yang panas, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah Budi untuk menjalani runitas kesehariannya. Malahan dia tambah semangat untuk menjajakan barang dagangannya di sebuah perempatan jalan di bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih sudah dua puluh tahun dia melakoni hidup sebagai pedagang asongan di Jakarta.
Seorang lelaki membuka pelan-pelan kaca mobilnya seraya melambaikan tangan memanggil Budi. Budi segera menghampiri mobil mewah itu. Lelaki itu minta sebuah majalah terkenal yang senantiasa mengupas masalah ekonomi dan bisnis. Sambil menyodorkan majalah yang diminta, Budi menatap wajah lelaki yang ternyata tidak asing bagi dirinya. Belum sempat Budi membuka bibir, lelaki itu sudah menyapa duluan. “Maaf, Kamu Budi ya? Main ke rumah ya. Ini uang pembelian majalah dan sekalian kartu namaku.”
Mobil Mercy keluaran terbaru itu buru-buru melaju karena sudah diklakson beberapa kali oleh mobil di belakangnya. Lampu pengatur lalu lintas sudah berwarna hijau. Budi pun bergegas ke pinggir jalan. Dengan antusias dibacanya kartu nama yang diberikan lelaki itu. Tertulis nama “I Wayan Dharma Kesuma” dan dibawahnya “Direktur Keuangan”. Dalam kartu itu juga tercantum nama perusahaan, alamat kantor, dan nomor telepon.
Budi tertegun sejenak. Pikirannya melayang ke lebih dari dua puluh tahun silam. Saat itu dia masih SMA dan sekelas dengan Dharma selama dua tahun. Dia pun pernah duduk sebangku sewaktu kelas 3. Dia ingat betul bahwa ranking Dharma masih di bawahnya. Budi termasuk siswa pintar di sekolah. Rankingnya dari kelas 1 hingga kelas 3 selalu dalam kisaran 5 besar, sedangkan Dharma tidak pernah mencapai 5 besar.
Dharma itu orangnya santai dalam belajar, tetapi bergaulnya pintar. Dharma gampang bergaul, sehingga di kalangan teman-teman SMA-nya, Dharma lebih populer daripada Budi. Budi tidak habis pikir. Orang yang prestasi akademiknya sewaktu sama-sama di SMA lebih rendah, tetapi sekarang sudah mengendarai mobil mewah keluaran terbaru dan mempunyai jabatan tinggi di kantornya. Sementara dirinya masih menjalani profesi sebagai pedagang asongan, menjajakan koran dan majalah di perempatan jalan. Betapa kontras kehidupan mereka. Bagaikan bumi dan langit.
Umat Hindu yang berbahagia, Setelah menyimak cerita singkat di atas, komentar yang muncul mungkin akan beragam. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu sudah merupakan kehendak Hyang Widhi. Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu adalah karena perilaku leluhurnya di masa lampau yang kurang baik, sehingga saat ini Budilah yang menanggung akibatnya. Bahkan, mungkin ada juga yang mempertanyakan bahwa Hyang Widhi pilih kasih dalam memberikan waranugeraha kepada Dharma dan Budi. Apakah benar Hyang Widhi lebih sayang kepada Dharma daripada kepada Budi?
Umat Hindu yang berbahagia,
Hyang Widhi menciptakan dunia beserta isinya lengkap dengan hukum-hukum alamnya. Hukum alam (Rta) ini bersifat universal dan netral. Universal artinya berlaku umum dan netral bermakna tidak memihak. Jadi, hukum alam ini berlaku untuk siapa saja, untuk seluruh alam beserta isinya, serta tidak memihak. Dengan hukum alam inilah Hyang Widhi mengatur dunia beserta isinya.
Hukum Karma Phala merupakan salah satu hukum alam (Rta). Kata “karma” berarti perbuatan dan kata “phala” berarti akibat. Jadi Hukum Karma Phala merupakan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada satu perbuatan (sebab) yang tidak ada hasilnya (akibat). Sebaliknya, tidak ada akibat tanpa adanya suatu sebab.
Karena merupakan hukum sebab akibat, maka Hukum Karma Phala berkorelasi erat dengan rentang waktu, yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Hal-hal yang sudah terjadi merupakan masa lalu. Hal-hal yang belum (akan) terjadi adalah masa depan (masa yang akan datang). Satu bulan yang lalu adalah masa lalu, satu jam yang lalu juga adalah masa lalu, bahkan satu detik yang lalu juga adalah masa lalu. Demikian juga dengan masa yang akan datang. Satu menit, satu jam, satu bulan, dan juga satu tahun yang akan datang merupakan masa depan. Perbuatan-perbuatan (sebab) di masa lalu akan memberikan dampak (hasil/akibat) pada waktu sekarang.
Menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang adalah hasil/akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, keputusan-keputusan kita di masa lalu, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu. Saat ini (waktu membuat tulisan ini) saya berada di kantor adalah akibat dari pilihan-pilihan saya tadi pagi di rumah. Saya bisa memilih pergi ke kantor, pergi ke kampus, pergi ke rumah famili, ataukah berdiam diri di rumah. Keputusan saya tadi pagi adalah pergi ke kantor dan tindakan saya adalah berangkat ke kantor. Sebagai akibatnya, saat ini saya berada di kantor.
Kalau dikaitkan dengan cerita singkat di atas, kenapa Budi saat ini berada di Jakarta dan menjadi pedagang asongan adalah akibat dari adanya pilihan-pilihan beberapa tahun sebelumnya. Dua puluh tahun lalu (menurut cerita di atas) Budi mempunyai pilihan-pilihan, yakni tetap tinggal di Bali ataukah berangkat mengadu nasib ke Jakarta. Akhirnya Budi memilih ke Jakarta dan berangkatlah Budi ke Jakarta waktu itu. Dari berbagai macam pilihan pekerjaan yang ada, budi memilih untuk berjualan majalah dan koran di perempatan jalan. Akibatnya, saat ini Budi masih menjalani profesi tersebut.
Lain halnya dengan Dharma. Setamat SMA dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogjakarta. Jika sewaktu SMA dia jarang belajar, maka sewaktu kuliah dia termasuk mahasiswa yang rajin belajar, tetapi tetap tidak melupakan pergaulan. Semangat hidupnya tinggi. Kawan-kawannya banyak. Dalam waktu kurang dari empat tahun dia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di universitas negeri terkenal di kota itu. Indeks Prestasi Kumulatif-nya pun nyaris mencapai angka 4.
Dari berbagai pilihan yang ada setamat kuliah, Dharma memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bergabung dengan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta. Dharma orangnya jujur, berntegritas tinggi, kerjanya rajin, berperilaku menyenangkan, bersemangat, cepat dalam mengambil keputusan, serta berwawasan luas. Bermodalkan semua itu karier Dharma di perusahaan itu menanjak pesat hingga akhirnya setahun yang lalu dia terpilih menjadi Direktur Keuangan.
Pencapaian Dharma menduduki posisi Direktur Keuangan dengan gaji tinggi dan fasilitas menggiurkan merupakan contoh implementasi dari Hukum Karmaphala. Inilah yang disebut dengan Sancita Karmaphala. Hasil yang dinikmati sekarang merupakan akibat dari perbuatan di masa lalu. Jabatan Direktur Keuangan yang diraih Dharma merupakan akibat/hasil dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan Dharma di masa lalu. Kalau saja dia memutuskan kembali ke Bali ketika tamat kuliah, maka posisi Direktur Keuangan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta tidak akan diraihnya.
Umat Hindu yang berbahagia,
Kalau kita sudah mengakui dan meyakini bahwa menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang, merupakan hasil/akibat dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala), maka menjadi apa kita di masa yang akan datang, di mana kita di masa yang akan datang, adalah ditentukan oleh pilihan-pilihan kita saat ini, keputusan-keputusan kita saat ini, dan tindakan-tindakan kita mulai saat ini. Inilah yang disebut dengan Kryamana Karmaphala. Kondisi kehidupan yang akan dijalani di masa depan merupakan hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.
Sementara itu, Prarabda Karmaphala merupakan hukum sebab akibat yang penyebabnya di masa sekarang dan berakibat langsung di masa sekarang juga. Contoh sederhananya adalah saat kita mencubit lengan (sebab), maka rasa sakitnya (akibat) dapat dirasakan secara langsung pada saat itu juga.
Umat Hindu yang berbahagia,
Sebagai refleksi akhir tahun 2011 mari kita merenung sejenak. Apakah selama ini kita sudah memahami, mengakui, dan meyakini keberadaan dan bekerjanya Hukum Karmaphala yang merupakan salah satu hukum alam (Rta) dari Hyang Widhi? Masihkah kita menyalahkan orang lain, keluarga, ataupun lingkungan atas kondisi kita saat ini? Atau malah berlindung di balik dalih bahwa semua ini sudah ditentukan oleh Hyang Widhi? Padahal Hyang Widhi sama sekali tidak memihak. Hyang Widhi mengatur alam semesta beserta isinya dengan hukum alam dan salah satunya adalah Hukum Karmaphala.
Mari kita rancang sendiri kehidupan masa depan kita. Kita adalah arsitek dari kehidupan kita, bukan orang lain. Kita diberikan kebebasan 100% untuk memilih, memutuskan, dan bertindak. Menjadi apa, di mana , dan seperti apa diri kita di tahun 2012 adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.
Pada penghujung tahun 2011 ini marilah kita akui dan sadari bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala). Karena semua ditentukan oleh kita sendiri, maka semuanya kita terima dengan ikhlas dan jadikan bahan renungan, bahan evaluasi diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, lebih hebat, lebih sukses, dan lebih bahagia di tahun 2012.
Selamat menyongsong kehidupan baru di tahun 2012.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Walau siang itu sang mentari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya yang panas, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah Budi untuk menjalani runitas kesehariannya. Malahan dia tambah semangat untuk menjajakan barang dagangannya di sebuah perempatan jalan di bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih sudah dua puluh tahun dia melakoni hidup sebagai pedagang asongan di Jakarta.
Seorang lelaki membuka pelan-pelan kaca mobilnya seraya melambaikan tangan memanggil Budi. Budi segera menghampiri mobil mewah itu. Lelaki itu minta sebuah majalah terkenal yang senantiasa mengupas masalah ekonomi dan bisnis. Sambil menyodorkan majalah yang diminta, Budi menatap wajah lelaki yang ternyata tidak asing bagi dirinya. Belum sempat Budi membuka bibir, lelaki itu sudah menyapa duluan. “Maaf, Kamu Budi ya? Main ke rumah ya. Ini uang pembelian majalah dan sekalian kartu namaku.”
Mobil Mercy keluaran terbaru itu buru-buru melaju karena sudah diklakson beberapa kali oleh mobil di belakangnya. Lampu pengatur lalu lintas sudah berwarna hijau. Budi pun bergegas ke pinggir jalan. Dengan antusias dibacanya kartu nama yang diberikan lelaki itu. Tertulis nama “I Wayan Dharma Kesuma” dan dibawahnya “Direktur Keuangan”. Dalam kartu itu juga tercantum nama perusahaan, alamat kantor, dan nomor telepon.
Budi tertegun sejenak. Pikirannya melayang ke lebih dari dua puluh tahun silam. Saat itu dia masih SMA dan sekelas dengan Dharma selama dua tahun. Dia pun pernah duduk sebangku sewaktu kelas 3. Dia ingat betul bahwa ranking Dharma masih di bawahnya. Budi termasuk siswa pintar di sekolah. Rankingnya dari kelas 1 hingga kelas 3 selalu dalam kisaran 5 besar, sedangkan Dharma tidak pernah mencapai 5 besar.
Dharma itu orangnya santai dalam belajar, tetapi bergaulnya pintar. Dharma gampang bergaul, sehingga di kalangan teman-teman SMA-nya, Dharma lebih populer daripada Budi. Budi tidak habis pikir. Orang yang prestasi akademiknya sewaktu sama-sama di SMA lebih rendah, tetapi sekarang sudah mengendarai mobil mewah keluaran terbaru dan mempunyai jabatan tinggi di kantornya. Sementara dirinya masih menjalani profesi sebagai pedagang asongan, menjajakan koran dan majalah di perempatan jalan. Betapa kontras kehidupan mereka. Bagaikan bumi dan langit.
Umat Hindu yang berbahagia, Setelah menyimak cerita singkat di atas, komentar yang muncul mungkin akan beragam. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu sudah merupakan kehendak Hyang Widhi. Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu adalah karena perilaku leluhurnya di masa lampau yang kurang baik, sehingga saat ini Budilah yang menanggung akibatnya. Bahkan, mungkin ada juga yang mempertanyakan bahwa Hyang Widhi pilih kasih dalam memberikan waranugeraha kepada Dharma dan Budi. Apakah benar Hyang Widhi lebih sayang kepada Dharma daripada kepada Budi?
Umat Hindu yang berbahagia,
Hyang Widhi menciptakan dunia beserta isinya lengkap dengan hukum-hukum alamnya. Hukum alam (Rta) ini bersifat universal dan netral. Universal artinya berlaku umum dan netral bermakna tidak memihak. Jadi, hukum alam ini berlaku untuk siapa saja, untuk seluruh alam beserta isinya, serta tidak memihak. Dengan hukum alam inilah Hyang Widhi mengatur dunia beserta isinya.
Hukum Karma Phala merupakan salah satu hukum alam (Rta). Kata “karma” berarti perbuatan dan kata “phala” berarti akibat. Jadi Hukum Karma Phala merupakan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada satu perbuatan (sebab) yang tidak ada hasilnya (akibat). Sebaliknya, tidak ada akibat tanpa adanya suatu sebab.
Karena merupakan hukum sebab akibat, maka Hukum Karma Phala berkorelasi erat dengan rentang waktu, yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Hal-hal yang sudah terjadi merupakan masa lalu. Hal-hal yang belum (akan) terjadi adalah masa depan (masa yang akan datang). Satu bulan yang lalu adalah masa lalu, satu jam yang lalu juga adalah masa lalu, bahkan satu detik yang lalu juga adalah masa lalu. Demikian juga dengan masa yang akan datang. Satu menit, satu jam, satu bulan, dan juga satu tahun yang akan datang merupakan masa depan. Perbuatan-perbuatan (sebab) di masa lalu akan memberikan dampak (hasil/akibat) pada waktu sekarang.
Menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang adalah hasil/akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, keputusan-keputusan kita di masa lalu, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu. Saat ini (waktu membuat tulisan ini) saya berada di kantor adalah akibat dari pilihan-pilihan saya tadi pagi di rumah. Saya bisa memilih pergi ke kantor, pergi ke kampus, pergi ke rumah famili, ataukah berdiam diri di rumah. Keputusan saya tadi pagi adalah pergi ke kantor dan tindakan saya adalah berangkat ke kantor. Sebagai akibatnya, saat ini saya berada di kantor.
Kalau dikaitkan dengan cerita singkat di atas, kenapa Budi saat ini berada di Jakarta dan menjadi pedagang asongan adalah akibat dari adanya pilihan-pilihan beberapa tahun sebelumnya. Dua puluh tahun lalu (menurut cerita di atas) Budi mempunyai pilihan-pilihan, yakni tetap tinggal di Bali ataukah berangkat mengadu nasib ke Jakarta. Akhirnya Budi memilih ke Jakarta dan berangkatlah Budi ke Jakarta waktu itu. Dari berbagai macam pilihan pekerjaan yang ada, budi memilih untuk berjualan majalah dan koran di perempatan jalan. Akibatnya, saat ini Budi masih menjalani profesi tersebut.
Lain halnya dengan Dharma. Setamat SMA dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogjakarta. Jika sewaktu SMA dia jarang belajar, maka sewaktu kuliah dia termasuk mahasiswa yang rajin belajar, tetapi tetap tidak melupakan pergaulan. Semangat hidupnya tinggi. Kawan-kawannya banyak. Dalam waktu kurang dari empat tahun dia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di universitas negeri terkenal di kota itu. Indeks Prestasi Kumulatif-nya pun nyaris mencapai angka 4.
Dari berbagai pilihan yang ada setamat kuliah, Dharma memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bergabung dengan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta. Dharma orangnya jujur, berntegritas tinggi, kerjanya rajin, berperilaku menyenangkan, bersemangat, cepat dalam mengambil keputusan, serta berwawasan luas. Bermodalkan semua itu karier Dharma di perusahaan itu menanjak pesat hingga akhirnya setahun yang lalu dia terpilih menjadi Direktur Keuangan.
Pencapaian Dharma menduduki posisi Direktur Keuangan dengan gaji tinggi dan fasilitas menggiurkan merupakan contoh implementasi dari Hukum Karmaphala. Inilah yang disebut dengan Sancita Karmaphala. Hasil yang dinikmati sekarang merupakan akibat dari perbuatan di masa lalu. Jabatan Direktur Keuangan yang diraih Dharma merupakan akibat/hasil dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan Dharma di masa lalu. Kalau saja dia memutuskan kembali ke Bali ketika tamat kuliah, maka posisi Direktur Keuangan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta tidak akan diraihnya.
Umat Hindu yang berbahagia,
Kalau kita sudah mengakui dan meyakini bahwa menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang, merupakan hasil/akibat dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala), maka menjadi apa kita di masa yang akan datang, di mana kita di masa yang akan datang, adalah ditentukan oleh pilihan-pilihan kita saat ini, keputusan-keputusan kita saat ini, dan tindakan-tindakan kita mulai saat ini. Inilah yang disebut dengan Kryamana Karmaphala. Kondisi kehidupan yang akan dijalani di masa depan merupakan hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.
Sementara itu, Prarabda Karmaphala merupakan hukum sebab akibat yang penyebabnya di masa sekarang dan berakibat langsung di masa sekarang juga. Contoh sederhananya adalah saat kita mencubit lengan (sebab), maka rasa sakitnya (akibat) dapat dirasakan secara langsung pada saat itu juga.
Umat Hindu yang berbahagia,
Sebagai refleksi akhir tahun 2011 mari kita merenung sejenak. Apakah selama ini kita sudah memahami, mengakui, dan meyakini keberadaan dan bekerjanya Hukum Karmaphala yang merupakan salah satu hukum alam (Rta) dari Hyang Widhi? Masihkah kita menyalahkan orang lain, keluarga, ataupun lingkungan atas kondisi kita saat ini? Atau malah berlindung di balik dalih bahwa semua ini sudah ditentukan oleh Hyang Widhi? Padahal Hyang Widhi sama sekali tidak memihak. Hyang Widhi mengatur alam semesta beserta isinya dengan hukum alam dan salah satunya adalah Hukum Karmaphala.
Mari kita rancang sendiri kehidupan masa depan kita. Kita adalah arsitek dari kehidupan kita, bukan orang lain. Kita diberikan kebebasan 100% untuk memilih, memutuskan, dan bertindak. Menjadi apa, di mana , dan seperti apa diri kita di tahun 2012 adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.
Pada penghujung tahun 2011 ini marilah kita akui dan sadari bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala). Karena semua ditentukan oleh kita sendiri, maka semuanya kita terima dengan ikhlas dan jadikan bahan renungan, bahan evaluasi diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, lebih hebat, lebih sukses, dan lebih bahagia di tahun 2012.
Selamat menyongsong kehidupan baru di tahun 2012.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Sabtu, 25 September 2010
Hari Saraswati: Sudahkah Pengetahuan itu Mengalir?
Om Suastiastu,
Hari ini, Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu Indonesia di seluruh muka bumi merayakan Hari Saraswati. Makna apa yang bisa kita berikan terhadap hari yang sangat suci bagi umat Hindu ini?
Hari Saraswati diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Kata Saraswati sendiri berasal dari kata “saras” yang artinya mengalir dan kata “wati” yang maknanya adalah mengandung sifat atau bersifat. Jadi, kata saraswati berarti mengandung sifat mengalir. Karena berkaitan dengan pengetahuan, maka yang mengalir itu adalah pengetahuan.
Dalam tataran yang lebih luas, kata mengalir dapat diartikan berkembang. Jika kita mendapatkan sesuatu pengetahuan, maka pengetahuan itu tidak boleh berhenti begitu saja dalam diri kita. Pengetahuan itu wajib kita alirkan agar pengetahuan itu bisa berkembang. Kalau pengetahuan itu berhenti (tidak mengalir), lama-kelamaan pengetahuan itu akan menghilang dari diri kita.
Cara sederhana agar pengetahuan itu tidak berhenti begitu saja dalam diri kita adalah dengan mempraktekkannya. Pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita dapatkan, sebaiknya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempraktekkan, kita akan mendapatkan manfaat dari pnegetahuan itu. Sesungguhnya, pengetahuan yang tidak dipraktekkan, tidak akan berarti apa-apa.
Contoh sederhana adalah pengetahuan agama tentang Tri Kaya Parisudha yang berarti tiga bentuk perbuatan yang disucikan. Ketiga bentuk perbuatan itu adalah berpikir yang baik (Manacika Parisudha), berkata yang baik (Wacika Parisudha), dan tindakan yang baik (Kayika Parisudha). Sejak bangku sekolah dasar kita diajarkan dan memperoleh pengetahuan tentang Tri Kaya Parisudha ini. Akan tetapi, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mempraktekkannya?
Apakah kita sudah berpikir secara baik (positif) terhadap setiap peristiwa yang ada di sekitar kita, apapun itu? Apakah kita sudah mengelola pikiran kita secara baik dan juga benar, sehingga apapun peristiwa yang terjadi, kita bisa selalu bersikap tenang dengan dilandasi pikiran yang baik dan jernih? Jika kita bisa senantiasa berpikir dengan baik dan jernih (Manacika Parisudha), keputusan yang kita ambil pun akan mampu membuat hidup kita menjadi lebih baik.
Apakah selama ini kita sudah mengeluarkan kata-kata yang baik, sehingga tidak akan menyinggung perasaan orang lain yang mendengarkannya? Apakah pemikiran-pemikiran kita sudah bisa kita uraikan dengan baik dengan kata-kata yang dikeluarkan mulut kita, sehingga orang yang mendengarkan mampu memahami dengan baik?
Contoh lain adalah pada saat kita belajar bahasa Inggris. Banyak buku yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris yang sudah kita baca. Akan tetapi, apabila kita tidak mempraktekkan dengan berbicara dalam bahasa Inggris, maka pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita pelajari tersebut tidak akan berguna, bahkan lama-kelamaan akan sirna dari otak kita.
Di samping mempraktekkan, cara mengalirkan ilmu pengetahuan adalah dengan berbagi. Pengetahuan yang sudah kita dapatkan sebaiknya dibagikan kepada orang lain. Semakin banyak kita berbagi, semakin berkembang ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk berbagi ilmu pengetahuan ini. Bisa dengan berdiskusi, saling bertukar pemikiran (ilmu penetahuan), bisa dengan mengajarkannya kepada orang lain, bisa dengan memberikan Dharma Wacana (khusus pengetahuan tentang agama), atau pun dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk kemudian disebarluaskan.
Melalui perayaan Saraswati kali ini, marilah kita sering-sering berbagi pengetahuan. Pengetahuan yang tidak dibagi ataupun tidak dipraktekkan, tidak akan memberi manfaat apa-apa, malahan lama-kelamaan akan sirna dari diri kita.
Selamat Hari Raya Saraswati.
Hari ini, Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu Indonesia di seluruh muka bumi merayakan Hari Saraswati. Makna apa yang bisa kita berikan terhadap hari yang sangat suci bagi umat Hindu ini?
Hari Saraswati diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Kata Saraswati sendiri berasal dari kata “saras” yang artinya mengalir dan kata “wati” yang maknanya adalah mengandung sifat atau bersifat. Jadi, kata saraswati berarti mengandung sifat mengalir. Karena berkaitan dengan pengetahuan, maka yang mengalir itu adalah pengetahuan.
Dalam tataran yang lebih luas, kata mengalir dapat diartikan berkembang. Jika kita mendapatkan sesuatu pengetahuan, maka pengetahuan itu tidak boleh berhenti begitu saja dalam diri kita. Pengetahuan itu wajib kita alirkan agar pengetahuan itu bisa berkembang. Kalau pengetahuan itu berhenti (tidak mengalir), lama-kelamaan pengetahuan itu akan menghilang dari diri kita.
Cara sederhana agar pengetahuan itu tidak berhenti begitu saja dalam diri kita adalah dengan mempraktekkannya. Pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita dapatkan, sebaiknya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempraktekkan, kita akan mendapatkan manfaat dari pnegetahuan itu. Sesungguhnya, pengetahuan yang tidak dipraktekkan, tidak akan berarti apa-apa.
Contoh sederhana adalah pengetahuan agama tentang Tri Kaya Parisudha yang berarti tiga bentuk perbuatan yang disucikan. Ketiga bentuk perbuatan itu adalah berpikir yang baik (Manacika Parisudha), berkata yang baik (Wacika Parisudha), dan tindakan yang baik (Kayika Parisudha). Sejak bangku sekolah dasar kita diajarkan dan memperoleh pengetahuan tentang Tri Kaya Parisudha ini. Akan tetapi, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mempraktekkannya?
Apakah kita sudah berpikir secara baik (positif) terhadap setiap peristiwa yang ada di sekitar kita, apapun itu? Apakah kita sudah mengelola pikiran kita secara baik dan juga benar, sehingga apapun peristiwa yang terjadi, kita bisa selalu bersikap tenang dengan dilandasi pikiran yang baik dan jernih? Jika kita bisa senantiasa berpikir dengan baik dan jernih (Manacika Parisudha), keputusan yang kita ambil pun akan mampu membuat hidup kita menjadi lebih baik.
Apakah selama ini kita sudah mengeluarkan kata-kata yang baik, sehingga tidak akan menyinggung perasaan orang lain yang mendengarkannya? Apakah pemikiran-pemikiran kita sudah bisa kita uraikan dengan baik dengan kata-kata yang dikeluarkan mulut kita, sehingga orang yang mendengarkan mampu memahami dengan baik?
Contoh lain adalah pada saat kita belajar bahasa Inggris. Banyak buku yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris yang sudah kita baca. Akan tetapi, apabila kita tidak mempraktekkan dengan berbicara dalam bahasa Inggris, maka pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita pelajari tersebut tidak akan berguna, bahkan lama-kelamaan akan sirna dari otak kita.
Di samping mempraktekkan, cara mengalirkan ilmu pengetahuan adalah dengan berbagi. Pengetahuan yang sudah kita dapatkan sebaiknya dibagikan kepada orang lain. Semakin banyak kita berbagi, semakin berkembang ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk berbagi ilmu pengetahuan ini. Bisa dengan berdiskusi, saling bertukar pemikiran (ilmu penetahuan), bisa dengan mengajarkannya kepada orang lain, bisa dengan memberikan Dharma Wacana (khusus pengetahuan tentang agama), atau pun dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk kemudian disebarluaskan.
Melalui perayaan Saraswati kali ini, marilah kita sering-sering berbagi pengetahuan. Pengetahuan yang tidak dibagi ataupun tidak dipraktekkan, tidak akan memberi manfaat apa-apa, malahan lama-kelamaan akan sirna dari diri kita.
Selamat Hari Raya Saraswati.
Selasa, 31 Agustus 2010
MAKNA HARI PIODALAN
Pura merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Masing-masing Pura biasanya mempunyai Hari Piodalan. Ada yang datangnya setiap enam bulan sekali, ada juga yang datangnya setiap tahun. Apa sebenarnya makna Hari Piodalan tersebut?
Berkaitan dengan makna sesuatu hal, ada suatu ungkapan yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan ataupun pedoman dalam menjalani hidup ini. Ungkapan tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang ada dan/atau terjadi di dunia ini adalah bersifat netral, belum mempunyai makna apa-apa, sampai diri kita sendiri yang memberi makna. Artinya, kita sendiri mempunyai kebebasan untuk memberi makna apapun terhadap apapun. Oleh karena itu, dalam memberikan makna (arti), sebaiknya kita memilih makna yang membuat hidup kita lebih baik, lebih tangguh, lebih hebat, lebih dahsyat, lebih bahagia, dan sejenisnya.
Pedoman tersebut di atas dapat juga kita gunakan dalam memberikan makna terhadap Hari Piodalan sebuah Pura. Makna Hari Piodalan sesungguhnya netral atau bisa dikatakan tidak mempunyai makna sama sekali, sampai diri kita sendiri yang memberi makna.
Bagi umat yang bukan Hindu, mungkin saja memberikan makna yang biasa-biasa saja atas Hari Piodalan. Bahkan, mereka tidak melihat Hari piodalan itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka menganggapnya tidak mempunyai makna apa-apa terhadap kehidupan mereka.
Lain halnya bagi kita sebagai umat Hindu. Umat Hindu akan memberikan makna tersendiri terhadap Hari Piodalan ini. Bahkan, antara umat Hindu yang satu dengan umat Hindu yang lainnya akan memberikan makna yang berbeda juga.
Karena kita mempunyai kebebasan memberikan makna, maka marilah kita berikan makna terhadapa Hari piodalan itu yang dengan makna itu membuat diri kita lebih hebat, lebih baik, lebih tangguh, lebih semangat, lebih bahagia, dan sejenisnya.
Berkaitan dengan makna sesuatu hal, ada suatu ungkapan yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan ataupun pedoman dalam menjalani hidup ini. Ungkapan tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang ada dan/atau terjadi di dunia ini adalah bersifat netral, belum mempunyai makna apa-apa, sampai diri kita sendiri yang memberi makna. Artinya, kita sendiri mempunyai kebebasan untuk memberi makna apapun terhadap apapun. Oleh karena itu, dalam memberikan makna (arti), sebaiknya kita memilih makna yang membuat hidup kita lebih baik, lebih tangguh, lebih hebat, lebih dahsyat, lebih bahagia, dan sejenisnya.
Pedoman tersebut di atas dapat juga kita gunakan dalam memberikan makna terhadap Hari Piodalan sebuah Pura. Makna Hari Piodalan sesungguhnya netral atau bisa dikatakan tidak mempunyai makna sama sekali, sampai diri kita sendiri yang memberi makna.
Bagi umat yang bukan Hindu, mungkin saja memberikan makna yang biasa-biasa saja atas Hari Piodalan. Bahkan, mereka tidak melihat Hari piodalan itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka menganggapnya tidak mempunyai makna apa-apa terhadap kehidupan mereka.
Lain halnya bagi kita sebagai umat Hindu. Umat Hindu akan memberikan makna tersendiri terhadap Hari Piodalan ini. Bahkan, antara umat Hindu yang satu dengan umat Hindu yang lainnya akan memberikan makna yang berbeda juga.
Karena kita mempunyai kebebasan memberikan makna, maka marilah kita berikan makna terhadapa Hari piodalan itu yang dengan makna itu membuat diri kita lebih hebat, lebih baik, lebih tangguh, lebih semangat, lebih bahagia, dan sejenisnya.
Rabu, 30 Juni 2010
MENUJU KEBEBASAN FINANSIAL ALA HINDU
Di suatu sore yang cerah, seorang ayah mengajak anaknya yang berumur tiga tahun jalan-jalan di seputar taman. Betapa bahagianya sang anak melihat bunga-bunga harum semerbak wangi. Hatinya sumringah. Perasaan bahagia juga terpancar dari raut muka sang ayah.
Sementara itu, sang bunda sedang duduk sambil menyusui anak keduanya. Sesekali matanya menelisik membuntuti arah kedua pujaan hatinya. Nampaknya keluarga ini begitu menikmati suasana sore itu.
Ada gula ada semut. Karena sore itu banyak pengunjung yang datang, para penjual makanan juga banyak yang hadir di sana. Tidak ketinggalan penjual es krim yang menjajakan berbagai cita rasa es krim. Ada rasa durian, coklat, susu, moka, dan sebagainya.
Rupanya pedagang es krim lagi dapat durian runtuh. Para pengunjung sore itu didominasi oleh anak-anak. Mereka pun mengerubuti pedagang es krim yang kebetulan pada sore itu hanya ada satu-satunya.
Melihat kerumunan anak-anak, si anak kecil tadi, sebut saja dengan Satwika, merengek-rengek kepada ayahnya untuk dibelikan es krim. Karena merasa sayang sama anak, ayahnya ikut nimbrung untuk antre membelikan es krim untuk anak kesayangannya itu.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya es krim sudah berada dalam genggaman sang ayah. Baru bermaksud menjulurkan tangannya ke arah mulut si anak, anaknya meminta agar dia yang memegang langsung es krim itu. Melihat sorot mata anaknya yang menunjukkan keseriusan, dengan sedikit terpaksa, diberikannya es krim itu untuk dipegang langsung sama anaknya.
Betapa girangnya Satwika kecil karena telah mendapatkan es krim kesukaannya. Dia berlari-lari kecil sambil menggenggam es krim di tangan. Tiba-tiba dia kepleset dan hampir terjatuh ke got. Memang dia tidak jadi terjatuh ke got, tetapi es krim yang ada di tangannya ikut terlempar hingga ke got.
Menyadari es krim kesayangannya terlempar ke got, dia menangis sekencang-kencangnya. Apalagi dia sama sekali belum sempat mencicipinya. Sambil menangis, dia kembali merengek-rengek minta dibelikan es krim lagi. Kali ini dia minta dibelikan tiga sekaligus.
Sejurus ayahnya terdiam. Dia dapat menyelami perasaan anaknya. Es krim kesukaannya terjatuh di saat anaknya sama sekali belum sempat menikmatinya. Rasa iba mendorongnya untuk segera merogoh kocek, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara halus dari dalam dirinya. Itulah suara hati nurani.
Hati nuraninya mengingatkan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Apalagi sampai membelikan tiga buah es krim sekaligus. Bagaimana si anak akan bisa memegang dan menjaganya kalau hanya menjaga satu buah es krim saja si anak sudah tidak mampu. Bahkan belum sempat dinikmati, es krim itu sudah terjatuh ke got.
Sebagai seorang ayah yang baik dan bijak, dia sudah memutuskan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Dia tidak akan memberikan tiga es krim ke anaknya yang baru berumur tiga tahun. Pengalaman menunjukkan bahwa bagi seorang anak kecil, memegang dan menjaga satu es krim saja tidak mampu, apalagi memegang sampai tiga. Kalau pun dia mau menuruti permintaan anaknya, itu pun lebih karena kasihan melihat dan mendengar suara tangis. Akhirnya, dia membelikan juga es krim buat anaknya, tetapi hanya satu buah. Itu pun tidak diserahkan langsung, tetapi masih dipegangnya untuk kemudian disuapkannya kepada si anak.
Sementara itu, sang bunda sedang duduk sambil menyusui anak keduanya. Sesekali matanya menelisik membuntuti arah kedua pujaan hatinya. Nampaknya keluarga ini begitu menikmati suasana sore itu.
Ada gula ada semut. Karena sore itu banyak pengunjung yang datang, para penjual makanan juga banyak yang hadir di sana. Tidak ketinggalan penjual es krim yang menjajakan berbagai cita rasa es krim. Ada rasa durian, coklat, susu, moka, dan sebagainya.
Rupanya pedagang es krim lagi dapat durian runtuh. Para pengunjung sore itu didominasi oleh anak-anak. Mereka pun mengerubuti pedagang es krim yang kebetulan pada sore itu hanya ada satu-satunya.
Melihat kerumunan anak-anak, si anak kecil tadi, sebut saja dengan Satwika, merengek-rengek kepada ayahnya untuk dibelikan es krim. Karena merasa sayang sama anak, ayahnya ikut nimbrung untuk antre membelikan es krim untuk anak kesayangannya itu.
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya es krim sudah berada dalam genggaman sang ayah. Baru bermaksud menjulurkan tangannya ke arah mulut si anak, anaknya meminta agar dia yang memegang langsung es krim itu. Melihat sorot mata anaknya yang menunjukkan keseriusan, dengan sedikit terpaksa, diberikannya es krim itu untuk dipegang langsung sama anaknya.
Betapa girangnya Satwika kecil karena telah mendapatkan es krim kesukaannya. Dia berlari-lari kecil sambil menggenggam es krim di tangan. Tiba-tiba dia kepleset dan hampir terjatuh ke got. Memang dia tidak jadi terjatuh ke got, tetapi es krim yang ada di tangannya ikut terlempar hingga ke got.
Menyadari es krim kesayangannya terlempar ke got, dia menangis sekencang-kencangnya. Apalagi dia sama sekali belum sempat mencicipinya. Sambil menangis, dia kembali merengek-rengek minta dibelikan es krim lagi. Kali ini dia minta dibelikan tiga sekaligus.
Sejurus ayahnya terdiam. Dia dapat menyelami perasaan anaknya. Es krim kesukaannya terjatuh di saat anaknya sama sekali belum sempat menikmatinya. Rasa iba mendorongnya untuk segera merogoh kocek, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara halus dari dalam dirinya. Itulah suara hati nurani.
Hati nuraninya mengingatkan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Apalagi sampai membelikan tiga buah es krim sekaligus. Bagaimana si anak akan bisa memegang dan menjaganya kalau hanya menjaga satu buah es krim saja si anak sudah tidak mampu. Bahkan belum sempat dinikmati, es krim itu sudah terjatuh ke got.
Sebagai seorang ayah yang baik dan bijak, dia sudah memutuskan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Dia tidak akan memberikan tiga es krim ke anaknya yang baru berumur tiga tahun. Pengalaman menunjukkan bahwa bagi seorang anak kecil, memegang dan menjaga satu es krim saja tidak mampu, apalagi memegang sampai tiga. Kalau pun dia mau menuruti permintaan anaknya, itu pun lebih karena kasihan melihat dan mendengar suara tangis. Akhirnya, dia membelikan juga es krim buat anaknya, tetapi hanya satu buah. Itu pun tidak diserahkan langsung, tetapi masih dipegangnya untuk kemudian disuapkannya kepada si anak.
Langganan:
Entri (Atom)