Jumat, 30 Desember 2011

HUKUM KARMA PHALA: SEBUAH REFLEKSI AKHIR TAHUN

Om Suastiastu,

Walau siang itu sang mentari sedang semangat-semangatnya memancarkan sinarnya yang panas, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkah Budi untuk menjalani runitas kesehariannya. Malahan dia tambah semangat untuk menjajakan barang dagangannya di sebuah perempatan jalan di bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih sudah dua puluh tahun dia melakoni hidup sebagai pedagang asongan di Jakarta.

Seorang lelaki membuka pelan-pelan kaca mobilnya seraya melambaikan tangan memanggil Budi. Budi segera menghampiri mobil mewah itu. Lelaki itu minta sebuah majalah terkenal yang senantiasa mengupas masalah ekonomi dan bisnis. Sambil menyodorkan majalah yang diminta, Budi menatap wajah lelaki yang ternyata tidak asing bagi dirinya. Belum sempat Budi membuka bibir, lelaki itu sudah menyapa duluan. “Maaf, Kamu Budi ya? Main ke rumah ya. Ini uang pembelian majalah dan sekalian kartu namaku.”

Mobil Mercy keluaran terbaru itu buru-buru melaju karena sudah diklakson beberapa kali oleh mobil di belakangnya. Lampu pengatur lalu lintas sudah berwarna hijau. Budi pun bergegas ke pinggir jalan. Dengan antusias dibacanya kartu nama yang diberikan lelaki itu. Tertulis nama “I Wayan Dharma Kesuma” dan dibawahnya “Direktur Keuangan”. Dalam kartu itu juga tercantum nama perusahaan, alamat kantor, dan nomor telepon.

Budi tertegun sejenak. Pikirannya melayang ke lebih dari dua puluh tahun silam. Saat itu dia masih SMA dan sekelas dengan Dharma selama dua tahun. Dia pun pernah duduk sebangku sewaktu kelas 3. Dia ingat betul bahwa ranking Dharma masih di bawahnya. Budi termasuk siswa pintar di sekolah. Rankingnya dari kelas 1 hingga kelas 3 selalu dalam kisaran 5 besar, sedangkan Dharma tidak pernah mencapai 5 besar.

Dharma itu orangnya santai dalam belajar, tetapi bergaulnya pintar. Dharma gampang bergaul, sehingga di kalangan teman-teman SMA-nya, Dharma lebih populer daripada Budi. Budi tidak habis pikir. Orang yang prestasi akademiknya sewaktu sama-sama di SMA lebih rendah, tetapi sekarang sudah mengendarai mobil mewah keluaran terbaru dan mempunyai jabatan tinggi di kantornya. Sementara dirinya masih menjalani profesi sebagai pedagang asongan, menjajakan koran dan majalah di perempatan jalan. Betapa kontras kehidupan mereka. Bagaikan bumi dan langit.

Umat Hindu yang berbahagia, Setelah menyimak cerita singkat di atas, komentar yang muncul mungkin akan beragam. Ada yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu sudah merupakan kehendak Hyang Widhi. Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan Budi seperti itu adalah karena perilaku leluhurnya di masa lampau yang kurang baik, sehingga saat ini Budilah yang menanggung akibatnya. Bahkan, mungkin ada juga yang mempertanyakan bahwa Hyang Widhi pilih kasih dalam memberikan waranugeraha kepada Dharma dan Budi. Apakah benar Hyang Widhi lebih sayang kepada Dharma daripada kepada Budi?

Umat Hindu yang berbahagia,
Hyang Widhi menciptakan dunia beserta isinya lengkap dengan hukum-hukum alamnya. Hukum alam (Rta) ini bersifat universal dan netral. Universal artinya berlaku umum dan netral bermakna tidak memihak. Jadi, hukum alam ini berlaku untuk siapa saja, untuk seluruh alam beserta isinya, serta tidak memihak. Dengan hukum alam inilah Hyang Widhi mengatur dunia beserta isinya.

Hukum Karma Phala merupakan salah satu hukum alam (Rta). Kata “karma” berarti perbuatan dan kata “phala” berarti akibat. Jadi Hukum Karma Phala merupakan Hukum Sebab Akibat. Tidak ada satu perbuatan (sebab) yang tidak ada hasilnya (akibat). Sebaliknya, tidak ada akibat tanpa adanya suatu sebab.

Karena merupakan hukum sebab akibat, maka Hukum Karma Phala berkorelasi erat dengan rentang waktu, yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Hal-hal yang sudah terjadi merupakan masa lalu. Hal-hal yang belum (akan) terjadi adalah masa depan (masa yang akan datang). Satu bulan yang lalu adalah masa lalu, satu jam yang lalu juga adalah masa lalu, bahkan satu detik yang lalu juga adalah masa lalu. Demikian juga dengan masa yang akan datang. Satu menit, satu jam, satu bulan, dan juga satu tahun yang akan datang merupakan masa depan. Perbuatan-perbuatan (sebab) di masa lalu akan memberikan dampak (hasil/akibat) pada waktu sekarang.

Menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang adalah hasil/akibat dari pilihan-pilihan kita di masa lalu, keputusan-keputusan kita di masa lalu, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu. Saat ini (waktu membuat tulisan ini) saya berada di kantor adalah akibat dari pilihan-pilihan saya tadi pagi di rumah. Saya bisa memilih pergi ke kantor, pergi ke kampus, pergi ke rumah famili, ataukah berdiam diri di rumah. Keputusan saya tadi pagi adalah pergi ke kantor dan tindakan saya adalah berangkat ke kantor. Sebagai akibatnya, saat ini saya berada di kantor.

Kalau dikaitkan dengan cerita singkat di atas, kenapa Budi saat ini berada di Jakarta dan menjadi pedagang asongan adalah akibat dari adanya pilihan-pilihan beberapa tahun sebelumnya. Dua puluh tahun lalu (menurut cerita di atas) Budi mempunyai pilihan-pilihan, yakni tetap tinggal di Bali ataukah berangkat mengadu nasib ke Jakarta. Akhirnya Budi memilih ke Jakarta dan berangkatlah Budi ke Jakarta waktu itu. Dari berbagai macam pilihan pekerjaan yang ada, budi memilih untuk berjualan majalah dan koran di perempatan jalan. Akibatnya, saat ini Budi masih menjalani profesi tersebut.

Lain halnya dengan Dharma. Setamat SMA dia memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogjakarta. Jika sewaktu SMA dia jarang belajar, maka sewaktu kuliah dia termasuk mahasiswa yang rajin belajar, tetapi tetap tidak melupakan pergaulan. Semangat hidupnya tinggi. Kawan-kawannya banyak. Dalam waktu kurang dari empat tahun dia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di universitas negeri terkenal di kota itu. Indeks Prestasi Kumulatif-nya pun nyaris mencapai angka 4.

Dari berbagai pilihan yang ada setamat kuliah, Dharma memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan bergabung dengan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta. Dharma orangnya jujur, berntegritas tinggi, kerjanya rajin, berperilaku menyenangkan, bersemangat, cepat dalam mengambil keputusan, serta berwawasan luas. Bermodalkan semua itu karier Dharma di perusahaan itu menanjak pesat hingga akhirnya setahun yang lalu dia terpilih menjadi Direktur Keuangan.

Pencapaian Dharma menduduki posisi Direktur Keuangan dengan gaji tinggi dan fasilitas menggiurkan merupakan contoh implementasi dari Hukum Karmaphala. Inilah yang disebut dengan Sancita Karmaphala. Hasil yang dinikmati sekarang merupakan akibat dari perbuatan di masa lalu. Jabatan Direktur Keuangan yang diraih Dharma merupakan akibat/hasil dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan Dharma di masa lalu. Kalau saja dia memutuskan kembali ke Bali ketika tamat kuliah, maka posisi Direktur Keuangan perusahaan konstruksi ternama di Jakarta tidak akan diraihnya.

Umat Hindu yang berbahagia,
Kalau kita sudah mengakui dan meyakini bahwa menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang, merupakan hasil/akibat dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala), maka menjadi apa kita di masa yang akan datang, di mana kita di masa yang akan datang, adalah ditentukan oleh pilihan-pilihan kita saat ini, keputusan-keputusan kita saat ini, dan tindakan-tindakan kita mulai saat ini. Inilah yang disebut dengan Kryamana Karmaphala. Kondisi kehidupan yang akan dijalani di masa depan merupakan hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.

Sementara itu, Prarabda Karmaphala merupakan hukum sebab akibat yang penyebabnya di masa sekarang dan berakibat langsung di masa sekarang juga. Contoh sederhananya adalah saat kita mencubit lengan (sebab), maka rasa sakitnya (akibat) dapat dirasakan secara langsung pada saat itu juga.

Umat Hindu yang berbahagia,
Sebagai refleksi akhir tahun 2011 mari kita merenung sejenak. Apakah selama ini kita sudah memahami, mengakui, dan meyakini keberadaan dan bekerjanya Hukum Karmaphala yang merupakan salah satu hukum alam (Rta) dari Hyang Widhi? Masihkah kita menyalahkan orang lain, keluarga, ataupun lingkungan atas kondisi kita saat ini? Atau malah berlindung di balik dalih bahwa semua ini sudah ditentukan oleh Hyang Widhi? Padahal Hyang Widhi sama sekali tidak memihak. Hyang Widhi mengatur alam semesta beserta isinya dengan hukum alam dan salah satunya adalah Hukum Karmaphala.

Mari kita rancang sendiri kehidupan masa depan kita. Kita adalah arsitek dari kehidupan kita, bukan orang lain. Kita diberikan kebebasan 100% untuk memilih, memutuskan, dan bertindak. Menjadi apa, di mana , dan seperti apa diri kita di tahun 2012 adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita saat ini.

Pada penghujung tahun 2011 ini marilah kita akui dan sadari bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari pilihan, keputusan, dan tindakan kita di masa lalu (Sancita Karmaphala). Karena semua ditentukan oleh kita sendiri, maka semuanya kita terima dengan ikhlas dan jadikan bahan renungan, bahan evaluasi diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, lebih hebat, lebih sukses, dan lebih bahagia di tahun 2012.

Selamat menyongsong kehidupan baru di tahun 2012.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Sabtu, 25 September 2010

Hari Saraswati: Sudahkah Pengetahuan itu Mengalir?

Om Suastiastu,

Hari ini, Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu Indonesia di seluruh muka bumi merayakan Hari Saraswati. Makna apa yang bisa kita berikan terhadap hari yang sangat suci bagi umat Hindu ini?

Hari Saraswati diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Kata Saraswati sendiri berasal dari kata “saras” yang artinya mengalir dan kata “wati” yang maknanya adalah mengandung sifat atau bersifat. Jadi, kata saraswati berarti mengandung sifat mengalir. Karena berkaitan dengan pengetahuan, maka yang mengalir itu adalah pengetahuan.

Dalam tataran yang lebih luas, kata mengalir dapat diartikan berkembang. Jika kita mendapatkan sesuatu pengetahuan, maka pengetahuan itu tidak boleh berhenti begitu saja dalam diri kita. Pengetahuan itu wajib kita alirkan agar pengetahuan itu bisa berkembang. Kalau pengetahuan itu berhenti (tidak mengalir), lama-kelamaan pengetahuan itu akan menghilang dari diri kita.

Cara sederhana agar pengetahuan itu tidak berhenti begitu saja dalam diri kita adalah dengan mempraktekkannya. Pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita dapatkan, sebaiknya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempraktekkan, kita akan mendapatkan manfaat dari pnegetahuan itu. Sesungguhnya, pengetahuan yang tidak dipraktekkan, tidak akan berarti apa-apa.

Contoh sederhana adalah pengetahuan agama tentang Tri Kaya Parisudha yang berarti tiga bentuk perbuatan yang disucikan. Ketiga bentuk perbuatan itu adalah berpikir yang baik (Manacika Parisudha), berkata yang baik (Wacika Parisudha), dan tindakan yang baik (Kayika Parisudha). Sejak bangku sekolah dasar kita diajarkan dan memperoleh pengetahuan tentang Tri Kaya Parisudha ini. Akan tetapi, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mempraktekkannya?

Apakah kita sudah berpikir secara baik (positif) terhadap setiap peristiwa yang ada di sekitar kita, apapun itu? Apakah kita sudah mengelola pikiran kita secara baik dan juga benar, sehingga apapun peristiwa yang terjadi, kita bisa selalu bersikap tenang dengan dilandasi pikiran yang baik dan jernih? Jika kita bisa senantiasa berpikir dengan baik dan jernih (Manacika Parisudha), keputusan yang kita ambil pun akan mampu membuat hidup kita menjadi lebih baik.

Apakah selama ini kita sudah mengeluarkan kata-kata yang baik, sehingga tidak akan menyinggung perasaan orang lain yang mendengarkannya? Apakah pemikiran-pemikiran kita sudah bisa kita uraikan dengan baik dengan kata-kata yang dikeluarkan mulut kita, sehingga orang yang mendengarkan mampu memahami dengan baik?
Contoh lain adalah pada saat kita belajar bahasa Inggris. Banyak buku yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris yang sudah kita baca. Akan tetapi, apabila kita tidak mempraktekkan dengan berbicara dalam bahasa Inggris, maka pengetahuan-pengetahuan yang sudah kita pelajari tersebut tidak akan berguna, bahkan lama-kelamaan akan sirna dari otak kita.

Di samping mempraktekkan, cara mengalirkan ilmu pengetahuan adalah dengan berbagi. Pengetahuan yang sudah kita dapatkan sebaiknya dibagikan kepada orang lain. Semakin banyak kita berbagi, semakin berkembang ilmu pengetahuan yang kita miliki.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk berbagi ilmu pengetahuan ini. Bisa dengan berdiskusi, saling bertukar pemikiran (ilmu penetahuan), bisa dengan mengajarkannya kepada orang lain, bisa dengan memberikan Dharma Wacana (khusus pengetahuan tentang agama), atau pun dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk kemudian disebarluaskan.

Melalui perayaan Saraswati kali ini, marilah kita sering-sering berbagi pengetahuan. Pengetahuan yang tidak dibagi ataupun tidak dipraktekkan, tidak akan memberi manfaat apa-apa, malahan lama-kelamaan akan sirna dari diri kita.

Selamat Hari Raya Saraswati.

Selasa, 31 Agustus 2010

MAKNA HARI PIODALAN

Pura merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Masing-masing Pura biasanya mempunyai Hari Piodalan. Ada yang datangnya setiap enam bulan sekali, ada juga yang datangnya setiap tahun. Apa sebenarnya makna Hari Piodalan tersebut?

Berkaitan dengan makna sesuatu hal, ada suatu ungkapan yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan ataupun pedoman dalam menjalani hidup ini. Ungkapan tersebut adalah bahwa segala sesuatu yang ada dan/atau terjadi di dunia ini adalah bersifat netral, belum mempunyai makna apa-apa, sampai diri kita sendiri yang memberi makna. Artinya, kita sendiri mempunyai kebebasan untuk memberi makna apapun terhadap apapun. Oleh karena itu, dalam memberikan makna (arti), sebaiknya kita memilih makna yang membuat hidup kita lebih baik, lebih tangguh, lebih hebat, lebih dahsyat, lebih bahagia, dan sejenisnya.

Pedoman tersebut di atas dapat juga kita gunakan dalam memberikan makna terhadap Hari Piodalan sebuah Pura. Makna Hari Piodalan sesungguhnya netral atau bisa dikatakan tidak mempunyai makna sama sekali, sampai diri kita sendiri yang memberi makna.

Bagi umat yang bukan Hindu, mungkin saja memberikan makna yang biasa-biasa saja atas Hari Piodalan. Bahkan, mereka tidak melihat Hari piodalan itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka menganggapnya tidak mempunyai makna apa-apa terhadap kehidupan mereka.

Lain halnya bagi kita sebagai umat Hindu. Umat Hindu akan memberikan makna tersendiri terhadap Hari Piodalan ini. Bahkan, antara umat Hindu yang satu dengan umat Hindu yang lainnya akan memberikan makna yang berbeda juga.

Karena kita mempunyai kebebasan memberikan makna, maka marilah kita berikan makna terhadapa Hari piodalan itu yang dengan makna itu membuat diri kita lebih hebat, lebih baik, lebih tangguh, lebih semangat, lebih bahagia, dan sejenisnya.

Rabu, 30 Juni 2010

MENUJU KEBEBASAN FINANSIAL ALA HINDU

Di suatu sore yang cerah, seorang ayah mengajak anaknya yang berumur tiga tahun jalan-jalan di seputar taman. Betapa bahagianya sang anak melihat bunga-bunga harum semerbak wangi. Hatinya sumringah. Perasaan bahagia juga terpancar dari raut muka sang ayah.

Sementara itu, sang bunda sedang duduk sambil menyusui anak keduanya. Sesekali matanya menelisik membuntuti arah kedua pujaan hatinya. Nampaknya keluarga ini begitu menikmati suasana sore itu.

Ada gula ada semut. Karena sore itu banyak pengunjung yang datang, para penjual makanan juga banyak yang hadir di sana. Tidak ketinggalan penjual es krim yang menjajakan berbagai cita rasa es krim. Ada rasa durian, coklat, susu, moka, dan sebagainya.

Rupanya pedagang es krim lagi dapat durian runtuh. Para pengunjung sore itu didominasi oleh anak-anak. Mereka pun mengerubuti pedagang es krim yang kebetulan pada sore itu hanya ada satu-satunya.

Melihat kerumunan anak-anak, si anak kecil tadi, sebut saja dengan Satwika, merengek-rengek kepada ayahnya untuk dibelikan es krim. Karena merasa sayang sama anak, ayahnya ikut nimbrung untuk antre membelikan es krim untuk anak kesayangannya itu.

Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, akhirnya es krim sudah berada dalam genggaman sang ayah. Baru bermaksud menjulurkan tangannya ke arah mulut si anak, anaknya meminta agar dia yang memegang langsung es krim itu. Melihat sorot mata anaknya yang menunjukkan keseriusan, dengan sedikit terpaksa, diberikannya es krim itu untuk dipegang langsung sama anaknya.

Betapa girangnya Satwika kecil karena telah mendapatkan es krim kesukaannya. Dia berlari-lari kecil sambil menggenggam es krim di tangan. Tiba-tiba dia kepleset dan hampir terjatuh ke got. Memang dia tidak jadi terjatuh ke got, tetapi es krim yang ada di tangannya ikut terlempar hingga ke got.

Menyadari es krim kesayangannya terlempar ke got, dia menangis sekencang-kencangnya. Apalagi dia sama sekali belum sempat mencicipinya. Sambil menangis, dia kembali merengek-rengek minta dibelikan es krim lagi. Kali ini dia minta dibelikan tiga sekaligus.

Sejurus ayahnya terdiam. Dia dapat menyelami perasaan anaknya. Es krim kesukaannya terjatuh di saat anaknya sama sekali belum sempat menikmatinya. Rasa iba mendorongnya untuk segera merogoh kocek, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara halus dari dalam dirinya. Itulah suara hati nurani.

Hati nuraninya mengingatkan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Apalagi sampai membelikan tiga buah es krim sekaligus. Bagaimana si anak akan bisa memegang dan menjaganya kalau hanya menjaga satu buah es krim saja si anak sudah tidak mampu. Bahkan belum sempat dinikmati, es krim itu sudah terjatuh ke got.
Sebagai seorang ayah yang baik dan bijak, dia sudah memutuskan untuk tidak menuruti permintaan anaknya. Dia tidak akan memberikan tiga es krim ke anaknya yang baru berumur tiga tahun. Pengalaman menunjukkan bahwa bagi seorang anak kecil, memegang dan menjaga satu es krim saja tidak mampu, apalagi memegang sampai tiga. Kalau pun dia mau menuruti permintaan anaknya, itu pun lebih karena kasihan melihat dan mendengar suara tangis. Akhirnya, dia membelikan juga es krim buat anaknya, tetapi hanya satu buah. Itu pun tidak diserahkan langsung, tetapi masih dipegangnya untuk kemudian disuapkannya kepada si anak.

Rabu, 12 Mei 2010

MELALUI PERAYAAN GALUNGAN MENUJU KEBAHAGIAAN BERLIMPAH

Om Suastiastu,
Setiap dua ratus sepuluh (210) hari sekali umat Hindu Indonesia yang berada di seluruh dunia merayakan Hari Raya Galungan. Hari Raya ini selalu jatuh pada setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan. Oleh karena itu, dalam satu tahun takwim (kalender) bisa terjadi dua kali Hari Raya Galungan. Untuk tahun 2010 ini umat Hindu merayakannya pada tanggal 12 Mei 2010 dan 8 Desember 2010. Perayaan ini merupakan bentuk rasa angayubagia (syukur) umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemenangan Dharma yang diraihnya selama ini.

Kemenangan Dharma atas Adharma dapat dimaknai sebagai kemenangan kita mengatasi setiap rintangan dalam bentuk apapun. Kemenangan dalam mengatasi rintangan merupakan sebuah keberhasilan. Oleh karena itu, kemenangan juga berarti kesuksesan. Kesuksesan bermakna pencapaian-pencapaian yang telah berhasil didapat atau diraih. Seseorang dikatakan sukses apabila dia berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menamatkan kuliah sarjananya dalam waktu empat tahun. Apabila mahasiswa tersebut benar-benar bisa tamat dalam waktu empat tahun, maka dia dapat dikatakan sudah sukses, yakni telah sukses menamatkan kuliah dalam waktu empat tahun.

Demikian juga dengan seorang karyawan yang ingin tiba di kantor sebelum pukul 07.30 pagi. Karena jalan raya di Jakarta pada pagi hari penuh dengan kendaraan yang melintas, maka kemacetan di pagi hari tidak bisa dihindarkan. Agar bisa sampai di kantor sebelum pukul 07.30, maka orang tersebut harus berangkat dengan mengendarai mobil pagi-pagi dari rumahnya. Jika tiba di kantor sebelum pukul 07.30 pagi, maka dia sudah berhasil mencapai apa yang menjadi keinginannya. Dia sudah sukses sampai di kantor sebelum pukul 07.30 pagi.

Contoh paling sederhana dapat ditunjukkan ketika seorang anak TK diajarkan cara melipat kertas. Anak tersebut kemudian diminta untuk melipat selembar kertas. Begitu si anak TK tersebut berhasil melipat kertas, maka dia sudah bisa disebut sukses melipat kertas.

Sebenarnya sangat banyak kesuksesan yang telah kita raih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kita sering kali tidak menyadarinya, apalagi merayakannya. Hal ini terjadi karena kita sering terlalu tinggi memberikan standar kesuksesan. Kesuksesan seseorang sering dikaitkan dengan kepemilikan harta yang banyak ataupun jabatan yang tinggi. Pandangan seperti ini menyebabkan kita tidak menyadari bahwa sejatinya kita sudah sukses. Setiap pencapaian, sekecil apapun, adalah kesuksesan. Akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil akan membentuk kesuksesan yang lebih besar.

Melalui perayaan Hari Raya Galungan, kita sesungguhnya dilatih untuk mengakui bahwa kita sejatinya sudah sukses. Kita dilatih untuk senantiasa bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan yang sudah diraih. Pengakuan kesuksesan dengan cara bersyukur ini diyakini akan mengundang lebih banyak lagi bentuk kesuksesan yang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu hukum alam (Rta) yang berlaku universal dan netral, yakni Law of Attraction (Hukum Daya Tarik).

Menurut Hukum Daya Tarik (Law of Attraction), apa yang kita pikirkan secara fokus akan mampu menarik hal-hal serupa dari alam semesta. Kalau kita memikirkan kesuksesan, maka kita akan menarik kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Terlebih-lebih kita bisa mensyukurinya. Rasa syukur akan kesuksesan yang telah kita raih merupakan bentuk ekspresi bahwa kita sudah sukses. Dengan kata lain, mensyukuri kesuksesan berarti kita memproklamasikan kepada alam semesta dan alam bawah sadar bahwa kita sudah sukses. Hal ini akan menarik hal-hal yang ada dalam alam semesta untuk mendukung kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan yang lain yang mungkin lebih besar dari kesuksesan yang telah diraih sebelumnya.

Selama bertahun-tahun kita sudah merayakan Hari Raya Galungan dan selama itu pula kita memaknainya sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma. Terkadang kita tidak dapat mendefinisikan secara jelas, kemenangan yang mana yang kita rayakan. Untuk itu, marilah kita maknai Hari Raya Galungan sebagai hari kemenangan yang berarti pula sebagai hari merayakan kesuksesan-kesuksesan yang telah berhasil diraih. Dengan merayakan dan angayubagia (bersyukur) atas kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih, hal ini akan menarik lebih banyak lagi kesuksesan-kesuksesan yang lain, bahkan kesuksesan-kesuksesan yang lebih besar.
Hubungan Sukses dengan Bahagia

Setelah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan (sukses), maka sebaiknya kita menyukai sesuatu yang telah kita dapatkan tersebut. Jika kita bisa menyukai sesuatu yang kita dapatkan, maka kita menjadi bahagia. Begitu sederhananya rumus kebahagiaan itu. Padahal, selama ini sering kita meletakkan kebahagiaan tersebut jauh di luar diri kita. Bahkan, kita sering terlalu tinggi memberikan persyaratan untuk bisa mencapai bahagia.

Seorang pemuda mendeklarasikan bahwa dirinya baru akan bahagia apabila dia berhasil mempersunting gadis pujaan hatinya. Hal ini berarti pemuda tersebut meletakkan kebahagiaannya jauh di luar dirinya. Dia tidak akan bahagia jika dia tidak kawin dengan gadis tersebut. Demikian juga dengan seseorang yang mengatakan akan sangat bahagia jika mempunyai rumah bagus lengkap dengan segala bentuk perabotannya. Orang ini telah menggantungkan kebahagiaannya pada benda-benda duniawi.

Bahagia merupakan salah satu bentuk respon kita terhadap segala sesuatu yang terjadi. Bentuk-bentuk respon yang lain adalah gembira, senang, kasih, marah, sedih, benci, dendam, kesal, sakit hati, dan sebagainya. Manusia diberikan kebebasan seratus persen untuk memilih bentuk respon yang akan diberikan atas sesuatu kejadian (stimulus). Sebagai contoh adalah orang yang kehilangan sepeda motor yang baru dibeli seminggu sebelumnya. Orang tersebut diberikan kebebasan untuk memilih apakah dengan hilangnya sepeda motor, dia akan memilih untuk bersedih hati atau tetap senang dan bahagia. Jika dia memilih untuk sedih dan bahkan dendam kepada si pencuri, apakah sepeda motornya akan bisa kembali? Demikian juga jika dia memilih untuk tetap bahagia, apakah sepeda motornya akan ditemukan kembali? Kedua pilihan respon tersebut dampaknya sama, yaitu sama-sama tidak bisa mengembalikan sepeda motor yang hilang. Oleh karena itu, sebaiknya orang tersebut memilih tetap bahagia walaupun sepeda motornya hilang.

Berhubung rumus untuk bahagia sangat sederhana, yakni menyukai sesuatu yang kita dapatkan, maka dengan merayakan kesuksesan (mendapatkan sesuatu yang kita inginkan), secara otomatis kita menjadi bahagia. Sekecil apapun kesuksesan yang telah kita raih, asalkan kita menyukai, apalagi merayakannya, maka kita serta merta akan meraih kebahagiaan. Semakin banyak kita merayakan kesuksesan, semakin bertambah kebahagiaan yang kita dapatkan. Semakin banyak kesuksesan yang kita syukuri, kebahagiaan kita akan semakin berlimpah.

Melalui Hari Raya Galungan marilah kita senantiasa angayubagia (bersyukur) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih. Dengan angayubagia, tidak hanya akan bergelimang kesuksesan, tetapi kita juga akan berkelimpahan bahagia. Jika kita sudah berkelimpahan bahagia, maka kita pun bisa membahagiakan orang-orang di sekitar kita.
Akhirnya, Selamat Hari Raya Galungan. Selamat Merayakan Kesuksesan. Selamat meraih kebahagiaan sejati dan selamat berkelimpahan bahagia.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Rabu, 31 Maret 2010

BRAHMAN ATMAN AIKHYAM

Dalam ajaran Hindu terdapat istilah atau ajaran yang disebut dengan "Brahman Atman Aikhyam yang mengandung arti bahwa Brahman (Tuhan) dan Atman (Sang Jiwa) adalah sama. Benarkah Brahman dan Atman itu sama? Bagaimana kita bisa menjelaskan hal tersbut?

Kamis, 25 Februari 2010

KEPADA SIAPA KITA BERGURU?

Om Suastiastu,

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Saraswati yang merupakan perwujudan rasa angayubagia (syukur) atas ilmu pengetahuan yang sudah kita peroleh selama ini. Sebenarnya dari manakah ilmu pengetahuan itu kita dapatkan? Apakah ilmu pengetahuan itu datang dari langit? Ataukah kita dapatkan begitu saja tanpa perlu bantuan orang lain? Kalau memang diperlukan bantuan orang lain, siapakah gerangan orang lain itu?

Pada saat keluar pertama kali dari kandungan ibunya, seorang bayi tidak tahu apa-apa, kecuali suara tangisan yang keluar dari mulut mungilnya. Dengan penuh kasih sang ibu akan mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada anaknya. Demikian juga dengan sang ayah. Kedua orang tua (ayah dan ibu) akan mengajarkan segala sesuatunya kepada anak kesayangannya. Mulai dari bagaimana tengkurep, duduk, berdiri, berjalan, dan seterusnya.

Orang yang dijadikan panutan oleh seorang anak adalah kedua orang tuanya. Kedua orang inilah yang tindak tanduknya dijadikan pedoman yang patut digugu dan ditiru. Oleh karena itu, peranan orang tua dalam pendidikan anak sangatlah besar. Merekalah yang menjadi guru untuk pertama kalinya bagi sang anak. Kepribadian anak sangat tergantung dari cara kedua orang tuanya memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ajaran Hindu kedua orang tua ini dinamakan Guru Rupaka.

Setelah memasuki usia sekolah, seorang anak akan menghabiskan sebagian hari-harinya di sekolah. Dari pagi hari hingga siang hari, bahkan juga ada yang sampai sore hari, seorang anak akan mendengarkan petuah-petuah dari para guru. Mulai dari bagaimana cara membaca, cara mengitung, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Guru di sekolah merupakan orang yang dijadikan panutan bagi murid. Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar tentang sesuatu ilmu pengetahuan, seorang murid diperkenankan untuk bertanya kepada guru. Gurulah merupakan sumber dan tempat untuk menggali segala macam pengetahuan. Untuk mengukur penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru, diadakanlah serangkaian ujian. Jika berhasil lulus dari ujian, seorang murid akan naik kelas.

Guru di sekolah memegang peranan sangat penting dalam menentukan kemajuan pendidikan suatu bangsa. Di tangan guru-gurulah segala potensi diri yang telah dimiliki murid akan terus digali dan dikembangkan. Jasa para pahlawan yang tidak pernah diberikan tanda jasa ini sangatlah besar dalam memoles kecerdasan seorang murid. Pahlawan tanpa tanda jasa ini dalam ajaran Hindu disebut Guru Pengajian.

Guru Pengajian ini tersebar mulai dari guru-guru di Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menegah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Guru di Universitas maupun Sekolah Tinggi yang lebih dikenal dengan sebutan dosen juga termasuk dalam cakupan Guru pengajian.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya di sekolah maupun perguruan tinggi, seseorang akan memasuki dunia kerja. Ada yang bekerja pada orang lain dengan menjadi seorang karyawan, ada juga yang membuka usaha sendiri dengan mempekerjakan orang lain. Dalam menjalankan tugas sehari-harinya sebagai karyawan, seseorang membutuhkan sebuah kompetensi yang tentunya perlu ditingkatkan secara berkesinambungan. Untuk bisa meningkatkan kompetensi ini, seseorang perlu mengikuti pelatihan-pelatihan.

Misalnya seorang pegawai yang menangani masalah pajak perusahaan. Untuk terus meningkatkan pengetahuan di bidang perpajakan, orang tersebut perlu mengikuti pelatihan-pelatihan di bidang perpajakan. Dalam pelatihan perpajakan akan ada seorang yang ahli di bidang pajak yang bertindak sebagai narasumber. Para peserta pelatihan akan mendapatkan pengetahuan perpajakan dari instruktur atau narasumber yang memang menguasai dan ahli masalah perpajakan. Demikian juga jika seseorang yang ingin meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi informasi. Orang tersebut akan menimba ilmu dari orang yang ahli di bidang teknologi informasi.

Seseorang disebut ahli apabila dia mempunyai pemahaman yang memadai di bidang tertentu dan sanggup mentransfer ilmunya itu kepada orang lain. Orang yang disebut ahli ini merupakan tempat bertanya bagi orang lain yang ingin memperdalam pengetahuannya. Oleh karena itu, pilihan yang paling tepat kalau kita ingin menimba ilmu pengetahuan adalah datang pada ahlinya. Kita mesti berguru kepada orang yang memang ahli di bidangnya. Orang yang ahli (expert) di bidang tertentu inilah sebenarnya yang disebut dengan Guru Wisesa.

Kata wisesa sama maknanya dengan pradnyan yang berarti pintar atau ahli. Orang yang pradnyan atau wisesa atau ahli merupakan orang yang paling tepat untuk menimba, belajar, atau memperoleh ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian (kewisesaan) orang tersebut. Orang yang wisesa adalah guru yang patut digugu dan ditiru untuk bidang yang menjadi keahliannya.

Setelah kita berguru kepada orang tua di rumah (Guru Rupaka), guru-guru atau dosen di sekolah atau perguruan tinggi (Guru Pengajian), dan orang-orang yang ahli di bidangnya (Guru Wisesa), maka kita juga sebenarnya bisa belajar pada diri sendiri. Sang Diri yang bersemayam pada hati dan jiwa dapat menuntun dan membimbing kita ke arah kebajikan. Sebagai penuntun dan pembimbing ke arah kebaikan, diri kita sendiri sejatinya adalah juga seorang guru. Inilah yang disebut dengan Guru Swadhyaya.

Kata swadhyaya berasal dari kata “swa” yang artinya sendiri dan “adhyaya” yang berarti belajar, sehingga kata swadhyaya mengandung makna belajar pada diri sendiri. Oleh karena itu, dalam diri kita sesungguhnya terdapat guru yang agung yang mampu menuntun dan membimbing kita menuju kesuksesan dalam hidup.
Bagaimana caranya kita agar mendapatkan bimbingan dari guru sejati yang ada dalam diri? Adakah cara jitu untuk bisa dengan mudah mendapatkan tuntunan hidup dari Sang Diri? Siapakah sebenarnya Guru Swadhyaya ini?

Serangkaian pertanyaan tersebut di atas akan bisa terjawab apabila kita sering melakukan perenungan dan perjalanan diri ke dalam. Sering-seringlah berkunjung ke dalam diri sambil membersihkan hati kita dari pikiran-pikiran kotor (emosi negatif). Hati yang bersih akan memudahkan munculnya Sang Guru Sejati.

Melalui perayaan Hari Saraswati kali ini marilah kita merenung sejenak, membersihkan jiwa kita, agar kita bisa menemukan Guru Swadhyaya yang mampu menuntun dan membimbing kita dalam mengarungi samudera kehidupan untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dunia ini.

Selamat Hari Raya Saraswati.

Om Shanti Shanti Shanti