Senin, 30 November 2009

Catur Paramitha

Hindu mempunyai ajaran yang sangat mulia dalam menuntun umatnya untuk berperilaku yang baik dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Ajaran yang disebut Catur Paramitha itu terdiri dari Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa.

Maitri artinya dalam kehidupan sehari-hari hendaknya umat Hindu menganggap bahwa setiap orang adalah sahabat. Kita diajarkan untuk selalu bersikap bersahabat kepada siapapun. Sikap bersahabat ini, jika berhasil kita terapkan, akan menciptakan kedamaian dalam hidup. Sejatinya tidak ada musuh di luar diri kita karena sesungguhnya musuh itu bercokol dalam diri setiap orang.

Apapun perilaku orang lain terhadap kita, sebagai seorang sahabat sejati, kita akan tetap menresponnya bagaiamana layaknya seorang sahabat. Jika sahabat kita melakukan kesalahan, kita tidak akan mendendam ataupun membencinya. Malahan kita akan segera bisa memaafkannya.

Membenci ataupun dendam terhadap seseorang akan menimbulkan beban berat pada kita. Beban tersebut akan terus kita pikul dalam perjalanana ke manapun kita pergi. Sebaliknya, memaafkan berarti membebaskan kita dari beban berat. Dengan memaafkan, beban itu akan lepas, sehingga kita akan lega kembali. Sikap ini akan nampak jika kita menganggap bahwa semua orang adalah sahabat (Maitri).

Ajaran kedua adalah Karuna yang berarti kasih sayang atau cinta kasih. Hindu mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengembangkan sifat cinta kasih atau kasih sayang kepada siapapun. Energi kasih merupakan energi positif yang memiliki tingkat yang sangat tinggi, jauh di atas energi yang dihasilkan oleh rasa kebencian. Energi kasih yang terpancar akan sanggup menetralkan energi-energi negatif, baik yang ada dalam tubuh kita, maupun energi negatif yang ada di sekitar kita.

Karena energi kasih ini tingkatannya sangat tinggi, energi ini dapat menyehatkan tubuh. Aliran darah menjadi lancar. Kadar gula, asam urat, kolesterol, dan asam lambung, serta zat-zat yang lainnya yang berada dalam tubuh manusia menjadi normal. Bahkan, energi kasih ini juga dapat menyembuhkan penyakit, baik penyakit pada tubuh kita sendiri, maupun penyakit pada tubuh orang lain. Dengan memancarkan energi kasih seseorang dapat menetralkan energi-energi yang dimiliki orang lain. Hal ini sangat tergantung dengan seberapa kuat pancaran energi kasih yang dihasilkan seseorang.

Energi kasih ini bahkan dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia serumit apapun itu. Dengan mengucapkan bahwa Anda mengasihi problem yang menimpa diri Anda, inspirasi akan timbul sebagai jalan untuk mendapatkan solusinya. Silakan dibuktikan.

Ajaran Mudita mengarahkan umat Hindu agar senantiasa bergembira dalam hidup ini. Perasaan gembira akan membuat hidup lebih bergairah. Aliran darahpun akan semakin lancar. Sebaliknya, jika kita dirundung kesedihan, dampaknya tidak bagus buat kesehatan tubuh. Rasa sedih akan memancarkan energi negatif, tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada tubuh kita sendiri. Sirkulasi darah menjadi terganggu. Kandungan zat-zat yang diperlukan tubuh menjadi tidak normal. Hal ini akan mengundang datangnya berbagai penyakit pada tubuh.

Bergembira maupun bersedih merupakan pilihan hidup. Kita sebagai manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Oleh karena itu, meminjam istilah dari sebuah iklan minuman, apapun kejadiannya, perasaan kita tetap: BERGEMBIRA. Inilah ajaran Mudita.

Setelah ketiga ajaran tersebut kita terapkan dalam hidup sehari-hari, rasanya kurang lengkap jika kita tidak melaksanakan ajaran Catur Paramitha yang terakhir, yakni Upeksa yang berarti hendaknya kita senantiasa menghargai orang lain. Penghargaan terhadap orang lain merupakan sikap yang patut dikembangkan.

Salah satu kebutuhan hidup manusia adalah perasaan dihargai. Dengan menghargai orang lain, kita sudah ikut memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya. Penghargaan merupakan salah satu bentuk pemberian (dana) yang tak ternilaikan. Kalau kita ingin dihargai orang lain, maka tindakan utama yang harus dilakukan adalah menghargai orang lain.

Demikianlah ajaran Catur Paramitha merupakan ajaran yang sangat adhiluhung yang patut kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Senin, 12 Oktober 2009

Hari Raya Galungan: Hari Merayakan Kesuksesan

Om Suastiastu,

Sebentar lagi umat Hindu Indonesia yang berada di seluruh dunia merayakan Hari Raya Galungan. Perayaan ini merupakan bentuk rasa syukur umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kemenangan yang diraihnya selama ini. Bagaimana umat Hindu memaknai hari kemenangan ini dalam konteks kehidupan sehari-hari?

Kemenangan dalam hal tertentu berarti kesuksesan. Kesuksesan bermakna pencapaian-pencapaian yang telah berhasil didapat atau diraih. Seseorang dikatakan sukses apabila dia berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Misalnya seorang pembalap ingin menjadi juara pertama dalam sebuah kejuaraan. Pada saat juara satu benar-benar digondolnya, maka orang tersebut dapat dikatakan sudah sukses.

Demikian juga seorang pengendara sepeda motor ketika mengendarai sepeda motornya di jalan raya menjumpai genangan air yang cukup tinggi yang menghadang perjalanannya. Keinginan dia saat itu hanya satu, yakni berhasil melewati genangan tersebut dengan selamat. Jika dia berhasil melewatinya, maka dia dapat disebut telah sukses menyeberangi genangan air, walaupun air yang tergenang cukup tinggi.

Contoh paling sederhana dapat ditunjukkan ketika seorang anak TK diajarkan cara menggunting kertas. Anak tersebut kemudian diminta untuk menggunting selembar kertas. Begitu si anak TK tersebut berhasil memotong kertas menjadi dua bagian dengan menggunakan gunting, maka dia sudah bisa disebut sukses menggunting kertas tersebut.

Sebenarnya sangat banyak kesuksesan yang telah kita raih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, kita sering kali tidak mengakuinya, apalagi merayakannya. Hal ini terjadi karena kita sering terlalu tinggi memberikan standar kesuksesan. Kesuksesan seseorang sering dikaitkan dengan kepemilikan harta yang banyak ataupun jabatan yang tinggi. Pandangan seperti ini menyebabkan kita tidak menyadari bahwa sejatinya kita sudah sukses. Setiap pencapaian, sekecil apapun, adalah kesuksesan. Akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil akan membentuk kesuksesan yang lebih besar.

Melalui perayaan Hari Raya Galungan kali ini, kita sesungguhnya dilatih untuk mengakui bahwa kita sejatinya sudah sukses. Kita dilatih untuk senantiasa bersyukur atas kesuksesan-kesuksesan yang sudah diraih. Pengakuan kesuksesan dengan cara bersyukur ini diyakini akan mengundang lebih banyak lagi bentuk kesuksesan yang lain. Hal ini sesuai dengan salah satu hukum alam (Rta) yang berlaku universal dan netral, yakni Law of Attraction (Hukum Ketertarikan).

Menurut Hukum Ketertarikan, apa yang kita pikirkan secara fokus akan mampu menarik hal-hal serupa dari alam semesta. Kalau kita memikirkan kesuksesan secara fokus, maka kita akan menarik kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Terlebih-lebih kita bisa mensyukurinya. Rasa syukur akan kesuksesan yang telah kita raih merupakan bentuk ekspresi bahwa kita sudah sukses. Dengan kata lain, mensyukuri kesuksesan berarti kita memproklamasikan kepada alam semesta dan alam bawah sadar bahwa kita sudah sukses. Hal ini akan menarik hal-hal yang ada dalam alam semesta untuk mendukung kita mendapatkan kesuksesan-kesuksesan yang lain yang mungkin lebih besar dari kesuksesan yang telah diraih sebelumnya.

Sebaliknya, apabila kita tidak mau mengakui kesuksesan yang telah diraih, bahkan mengeluhkan kegagalan-kegagalan yang dialami, maka hal ini akan mengundang (menarik) bentuk kegagalan-kegagalan yang lainnya. Ingatlah bahwa dengan mengeluh, kita sejatinya telah mengundang dan menarik hal-hal yang dikeluhkan untuk terjadi pada diri kita dan terus terjadi.

Di samping itu, mengeluh merupakan salah satu penyakit yang dapat menular. Coba perhatikan dan renungkan jika ada orang yang mengeluhkan sesuatu kepada kita. Setelah orang itu mengeluarkan keluhannya, biasanya kita akan bersimpati kepadanya. Tanpa disadari, kita pun akan ikut mengeluhkan sesuatu sebagai ungkapan bentuk rasa simpati kita terhadap dirinya.

Karena kita tahu bahwa di samping merupakan penyakit menular, mengeluh dapat menarik semakin banyak hal-hal yang kita keluhkan untuk terjadi dan terus terjadi pada kita, marilah kita melatih diri untuk sedapat mungkin menghindar dari aktivitas mengeluh ini. Sebagai lawan dari mengeluh, marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi atas kesuksesan-kesuksesan, sekecil apapun, yang telah kita raih.

Selama bertahun-tahun kita sudah merayakan Hari Raya Galungan dan selama itu pula kita memaknainya sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma. Terkadang kita tidak dapat mendefinisikan secara jelas, kemenangan yang mana yang kita rayakan. Untuk itu, marilah kita maknai Hari Raya Galungan sebagai hari kemenangan yang berarti pula sebagai hari merayakan kesuksesan-kesuksesan yang telah berhasil diraih. Dengan merayakan dan angayubagia (bersyukur) atas kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih, hal ini akan menarik lebih banyak lagi kesuksesan-kesuksesan yang lain, bahkan kesuksesan-kesuksesan yang lebih besar.

Akhirnya, Selamat Hari Raya Galungan. Selamat Merayakan Kesuksesan. Yakinlah, kesuksesan demi kesuksesan sudah menanti Anda.
Om Shanti Shanti Shanti Om.

Selasa, 15 September 2009

Gamelan Bali

Om Suastiastu,

Sambil mendalami ajaran Hindu, alangkah baiknya jika diiringi dengan suara gambelan gong, baik itu berupa Tabuh Kreasi Baru, maupun Tabuh Lelambatan. Untuk itu, saya persilakan Anda untuk mengunduh beberapa file di bawah ini.

TABUH LELAMBATAN

1. Tabuh Pat Jagul

2. Tabuh Pat Semarandana

3. Tabuh Merak Kuning

4. Tabuh Gilak

5. Tabuh Pat Subandar

6. Tabuh Lelambatan


GONG KEBYAR

1. Kebyar Labuh Tiga

2. Kebyar Jengah Erang

3. Kreasi Baru Gita Kesuma

Kamis, 10 September 2009

Untuk Siapa Kita Berdana Punia?

Seorang wanita yang kebetulan adalah karyawati perusahaan swasta di Jakarta, ngomel terus di hadapan suaminya saat sehabis membaca sebuah berita di koran. Berita tersebut rupanya sangat menyesakkan dadanya. "Ayah, coba baca berita di koran ini!" pintanya kepada sang suami. "Selama ini percuma saya telah memberikan uang kepada pengemis di jalanan." Menurut berita itu, rupanya uang itu diserahkan kepada koordinatornya dan oleh sang koordinator uang hasil mengemis itu digunakan untuk foya-foya.

"Sudahlah, Ibu tidak usah uring-uringan seperti itu! Dulu katanya ikhlas memberi kepada mereka, para pengemis. Mengapa sekarang diributkan?". Sang suami mencoba menenangkan istrinya.

Kamis, 03 September 2009

Catur Warna: Benarkah Menghambat Perkembangan Hindu?

Om Suastiastu,

Sehabis menyantap hidangan makan malam di meja makan, seorang anak menanyakan sesuatu kepada ayahnya, seorang pengusaha sukses. “Ayah, apakah yang dimaksud dengan Catur Paramita? Terdiri dari apa saja dan apakah artinya masing-masing?” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari mulut anaknya, sang ayah buru-buru menjawab. “Nak, sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan kepada guru agama di Pura. Mereka pasti lebih tahu daripada Ayah. Lagi pula, Ayah selama ini sibuk terus dengan urusan bisnis, sehingga tidak sempat mempelajari hal-hal seperti itu?”

Pada kesempatan lain, seorang pejabat penting di sebuah departemen yang kebetulan beragama Hindu diminta untuk memberikan Dharma Wacana dalam sebuah arisan keluarga. “Waduh, mohon maaf, saya belum bisa memberikan Dharma Wacana. Pemahaman agama saya masih kurang, belum seberapa dibandingkan dengan yang lain. Undang saja orang dari Departemen Agama, dari Parisada, ataupun Ida Pedanda sekalian supaya lebih mantap.”

Kedua fenomena di atas mungkin bisa menjadi gambaran yang mewakili sebagian umat Hindu yang hingga kini masih banyak yang tidak tertarik untuk mendalami ajaran Hindu. Jangankan mendalami, sekadar membaca-baca buku yang bernafaskan Hindu saja mungkin mereka tidak tertarik. Di mana sesungguhnya letak permasalahannya? Apakah ajaran Hindu memang tidak menarik? Ataukah cara penyajiannya yang kurang menarik? Jangan-jangan ada sesuatu yang menjadi penghambatnya.

Dalam agama Hindu terdapat ajaran Catur Warna yang selama ini dimaknai sebagai pembagian tugas dalam masyarakat yang terdiri dari empat bidang, yakni Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Brahmana adalah golongan masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya mengantarkan upacara keagamaan, mendalami ajaran Hindu, serta melakukan pembinaan kerohanian kepada umat Hindu. Termasuk kelompok ini adalah para Sulinggih, Pinandita, dan guru agama Hindu.

Ksatria adalah golongan masyarakat yang bertugas melindungi masyarakat serta menjalankan pemerintahan. Para birokrat beserta jajarannya termasuk dalam golongan ini. Pada jaman dahulu yang termasuk golongan ini adalah raja, patih, punggawa, dan sejenisnya.

Kalau Ksatria bertugas menggerakkan roda pemerintahan, golongan Wesya adalah kelompok masyarakat yang bertugas menggerakkan roda perekonomian. Yang masuk kelompok ini adalah para pengusaha, pedagang, dan sejenisnya. Terakhir, golongan Sudra adalah golongan masyarakat yang bertugas melayani ketiga golongan di atas.

Penjelasan makna dari Catur Warna seperti di atas merupakan pemaknaan yang telah menjadi pegangan sebagian besar umat Hindu di Indonesia selama ini. Disadari atau tidak, pemaknaan demikian telah membagi dan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan peran masing-masing golongan. Seperti contoh percakapan di atas, karena merasa dirinya seorang pengusaha yang termasuk kategori Wesya, orang tersebut merasa tidak perlu mendalami ajaran Hindu. Dia sudah merasa cukup berperan sebagai seorang Wesya. Urusan agama sudah ada yang menangani, yakni para guru agama Hindu di sekolah yang termasuk golongan Brahmana.

Demikian juga dengan fenomena pejabat tadi. Walaupun kariernya sebagai birokrat tergolong moncer, tetapi dia merasa minder dalam urusan ajaran agama. Sebenarnya peran sebagai seorang Ksatria sudah dijalaninya dengan sukses. Di samping sudah terbiasa memimpin rapat-rapat penting, pejabat tersebut juga dapat dengan lancarnya memberikan pengarahan-pengarahan kepada anak buahnya. Bahkan, wacana tentang nilai-nilai kehidupan terkadang muncul juga di sela-sela pengarahannya. Hal ini berarti pejabat tadi sesungguhnya sudah mumpuni untuk memberikan Dharma Wacana. Berbagai pengalaman sepanjang kariernya sebagai birokrat, jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran yang dimiliki agama Hindu, merupakan bahan Dharma Wacana bagus yang dapat menginspirasi umat Hindu lainnya. Akan tetapi, akibat penghayatan terhadap Catur Warna yang telah melekat selama ini, pejabat tadi tidak tertarik untuk mempelajari agama karena mendalami ajaran agama adalah tugas seorang Brahmana.

Apakah kondisi tersebut akan kita biarkan terus berlangsung? Jawabannya pasti tidak. Untuk itu, marilah kita telusuri kembali secara cermat apa sesungguhnya makna Catur Warna.

Catur Warna sejatinya adalah empat warna atau fungsi yang melekat pada diri seseorang. Keempatnya melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh adalah seorang ayah. Peran (fungsi) Brahmana wajib dilakoninya dalam rangka memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan agama anaknya. Seorang ayah mesti ikut mengajarkan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya. Kalau selama ini pendidikan agama Hindu diserahkan begitu saja kepada guru-guru agama, baik di sekolah maupun di Pesraman (Pura), maka mulai saat ini sebaiknya seorang ayah mulai ikut mengambil peran dan bertanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak-anaknya. Peran Brahmana yang seharusnya melekat pada dirinya yang selama ini seolah-olah terabaikan, sebaiknya berangsur-angsur mulai dijalankan.

Di samping sebagai Brahmana, seorang ayah adalah juga seorang Ksatria. Dia adalah seorang kepala keluarga, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab mengarahkan tujuan berumah tangga. Jiwa kepimpinan mesti dimiliki seorang ayah, sehingga mampu mengarahkan perjalanan hidup anggota keluarga lainnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Seorang ayah adalah juga seorang Wesya yang bertanggung jawab memperoleh penghasilan untuk kelancaran perekonomian keluarga. Peran Wesya sangat sentral dalam keluarga. Ayahlah seharusnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi finansial keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang mapan akan mampu menghantarkan keluarga menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Warna Sudra merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang ayah. Ayah harus bisa melayani kepentingan istri, anak, serta anggota keluarga lainnya. Peran sebagai pelayan bukan berarti merendahkan martabat seseorang. Melayani orang lain sejatinya adalah melayani diri sendiri. Aktivitas melayani akan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang menyehatkan.

Berdasarkan uraian di atas, jelas-jelas terlihat bahwa Catur Warna melekat pada diri seseorang dan mesti dijalankan keempatnya, walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Khusus untuk Warna Brahmana, marilah kita mulai mendalami ajaran agama Hindu sebaik-baiknya. Mari kita maknai ajaran agama kita, sehingga dengan makna tersebut bisa mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera. Berdasarkan pemahaman yang kita dapatkan, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Di samping kepada anak-anak kita, pemahaman yang diperoleh tersebut dapat juga disampaikan kepada orang lain, baik di sampaikan secara langsung, maupun lewat tulisan. Yakinlah, apa yang kita sampaikan akan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Rabu, 02 September 2009

PITRA PUJA

Om Swarganthu Pitaro Dewa
Swarganthu Pitaro Ganam
Swarganthu Pitaro Sarwa
Ya Namah Swadah

Om Moksanthu Pitaro Dewa
Moksanthu Pitaro Ganam
Moksanthu Pitaro Sarwa
Ya NAmah Swadah

Om Sunyanthu Pitaro Dewa
Sunyanthu Pitaro Ganam
Sunyanthu Pitaro Sarwa
Ya Namah Swadah

Om Murcyanthu Pitaro Dewa
Murcyanthu Pitaro Ganam
Murcyanthu Pitaro Sarwa
Ya Namah Swadah

Jumat, 14 Agustus 2009

Renungan Hari kemerdekaan RI: Sudahkah Kita Merdeka?

Om Suastiastu,

Beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 17 Agustus 2009. Kata “merdeka” mengandung arti “bebas”. Indonesia merdeka berarti Indonesia bebas dari segala bentuk penjajahan. Sudah enam puluh empat tahun bangsa ini merdeka. Setiap tahun kita sudah dan akan terus memperingati hari bersejarah ini. Bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita mencapai kemerdekaan?

Salah satu hak hakiki yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah hak untuk bebas (merdeka) menentukan pilihan-pilhan. Pilihan-pilihan ini senantiasa ada di hadapan kita dan kita diberikan kebebasan untuk memilihnya. Karena kita diberikan kebebasan, maka kita harus pandai dan bijak dalam menentukan pilihan. Sekali sudah menentukan pilihan, kita harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Seringkali kita mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita merupakan faktor yang menyebabkan kita sedih, kecewa, dan marah, ataupun senang, gembira, dan bahagia. Padahal, kalau kita renungkan lebih dalam, bukan peristiwa-peristiwa itu sebagai faktor penyebabnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sesungguhnya “netral” adanya, tidak ada artinya, kecuali kita sendiri yang memberikan arti. Hal ini mengandung makna yang sangat dalam. Apapun peristiwanya, kita bebas memilih respon terhadap peristiwa tersebut. Apakah mau sedih, kecewa, atau marah? Ataukah kita memilih untuk senang, gembira, dan bahagia? Semuanya tergantung pilihan kita.

Sebagai contoh nyata adalah pada saat anak kecil menjatuhkan gelas ke lantai dan gelasnya pecah. Peristiwa jatuh dan pecahnya gelas sudah terjadi. Begitu orang tuanya tahu peristiwa itu, dengan serta merta orang tuanya memarahi anaknya hingga anaknya menangis. Atas peritiwa tersebut, orang tuanya memilih respon marah dan anaknya memilih respon menangis. Apakah dengan memilih “marah” bisa menjadikan gelas yang sudah pecah menjadi utuh kembali? Tentu jawabannya tidak. Dalam peristiwa ini, sebaiknya orang tuanya memilih respon tenang, tidak marah, dan malahan mendekati anaknya untuk memberi nasihat agar anaknya lebih hati-hati di kemudian hari. Apapun respon yang diberikan, tidak akan bisa mengubah gelas yang pecah menjadi utuh kembali.

Respon marah, di samping bisa membuat anaknya menangis, juga berdampak negatif terhadap diri orang tuanya. Kemarahan akan mengganggu sirkulasi darah. Tensi darah akan naik dan berdampak pada fungsi jantung. Sebaliknya, pilihan respon untuk tetap tenang tidak membuat anaknya menangis dan tidak berdampak negatif terhadap sirkulasi darah dan fungsi jantung.

Masih banyak peristiwa lainnya yang sering terjadi di sekitar kita. Sebenarnya kita diberikan kebebasan untuk memilih respon terhadap peristiwa itu. Sering kita tidak menyadari kebebasan ini, sehingga kita lebih sering memberikan respon yang sejatinya berdampak negatif terhadap diri kita. Respon marah, sedih, kecewa, kesal dan sejenisnya adalah respon yang berdampak tidak baik buat diri kita. Sebaliknya, respon tenang, senang, gembira, bersyukur, bahagia, dan sejenisnya akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Karena kita diberi kebebasan untuk memilih respon, maka pilihlah respon yang menjadikan diri kita lebih baik, lebih kuat, lebih semangat, lebih bahagia, dan sejenisnya.

Tujuan Agama Hindu adalah Moksartham Jagadhita. Kata Moksartham terdiri dari kata “moksa” yang artinya bebas atau lepas dan kata “artham” yang artinya benda-benda duniawi (keduniawian). Sedangkan kata “jagadhita” terdiri dari kata “jagad” yang artinya dunia ini dan kata “hita” yang berarti bahagia (kebahagiaan). Oleh karena itu, tujuan Agama Hindu adalah untuk mencapai keadaan yang bebas (moksa) dari ikatan duniawi (artham), demi tercapainya kebahagiaan (hita) di dunia ini (jagad).

Bebas dari ikatan duniawi dapat dimaknai sebagai kebebasan kita memilih respon atas kejadian atau peristiwa yang terjadi. Apapun kejadiannya, kita bebas memilih respon. Kita tidak terikat oleh kejadian-kejadian duniawi ini. Namun demikian, kebebasan yang kita miliki itu sebaiknya kita arahkan untuk mencapai kebahagiaan di dunia ini (jagadhita).

Untuk mencapai kebahagiaan di dunia ini, bukanlah sesuatu yang sulit. Selama ini kita sulit menemukan kebahagiaan disebabkan kita terlalu tinggi memberikan persyaratan untuk bahagia. Seringkali kita menempatkan kebahagiaan itu jauh dan sulit untuk dicapai. Kita akan bahagia kalau kita mempunyai rumah bagus, kita baru bisa bahagia kalau kita mempunyai arta benda yang banyak, dan seterusnya. Padahal, kebahagiaan itu melekat dalam diri kita dan dengan mudahnya kita bisa mencapainya. Caranya? Jangan memberikan syarat apapun untuk bahagia. Dengan kata lain, bahagialah tanpa syarat!

Dalam kaitannya dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang sebentar lagi akan kita peringati, marilah kita renungkan kembali kebebasan (kemerdekaan) yang kita miliki. Mari kita manfaatkan kemerdekaan (kebebasan) ini untuk memilih respon terhadap kejadian apapun yang membuat kita selalu bahagia. Dengan demikian, tujuan agama Hindu, yakni Moksartham Jagadhita, bisa kita capai. Kita mencapai kebebasan memilih respon atas peristiwa apapun yang terjadi, sehingga membuat diri kita tetap bahagia. Bahagia dalam kehidupan kita saat ini.

Merdeka!!!

Om Shanti Shanti Shanti Om