Jumat, 31 Juli 2009

Hari Saraswati: Belajar Bekelanjutan, Tiada Henti

Om Suastiastu,

Umat Hindu sangat bersyukur karena dalam ajaran Hindu banyak terdapat hari suci keagamaan. Perayaan hari-hari suci keagamaan merupakan sarana untuk menghaturkan terima kasih dan angayubagia (bersyukur) kehadapan Hyang Widhi Wasa. Salah satu hari suci tersebut adalah Hari Saraswati yang datangnya setiap enam bulan sekali. Karena sebentar lagi kita akan merayakannya, timbul pertanyaan dalam hati. Sudahkah kita angayubagia pada setiap Hari Sarawati tiba? Angayubagia atas apa?

Perayaan Hari Saraswati merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kehadapan Hyang Widhi karena sudah berhasil mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, baik yang didapatkan melalui pendidikan formal, maupun lewat jalur non-formal. Selama ini rasa syukur itu kita wujudkan melalui persembahyangan Saraswati bersama-sama di Pura. Di samping itu, kita juga mempersembahkan banten Saraswati kepada Sang Hyang Aji Saraswati, khususnya di tempat kita menyimpan buku-buku. Apakah ini sudah cukup?

Dengan mengucapkan angayubagia atas ilmu pengetahuan yang kita dapatkan, berarti kita mengakui bahwa kita sudah memperoleh ilmu pengetahuan. Kita sudah memiliki ilmu pengetahuan tertentu. Rasa syukur (angayubagia) tersebut akan membentuk suasana hati kita menjadi suasana hati yang penuh berkelimpahan, khususnya keberlimpahan ilmu pengetahuan. Suasana hati yang penuh keberlimpahan ini, sesuai dengan Hukum Punarbhawa (Hukum Tarik Menarik atau The Law of Attraction) akan menarik ilmu pengetahuan serupa. Semakin kita bersyukur pada pengetahuan yang kita miliki, kita akan semakin tertarik untuk terus mempelajari hal-hal (pengetahuan) untuk memperdalam ataupun memperkaya khazanah pengetahuan kita di bidang itu.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, sejatinya kita hanya perlu mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Kita tidak perlu lagi memohon agar kita diberikan waranugraha berupa ilmu pengetahuan. Khusus pada Hari Saraswati, kita sering masih memohon waranugraha berupa ilmu pengetahuan. Sepanjang kita masih memohon, apa pun itu, hal itu menandakan bahwa kita masih kekurangan dan tidak menghargai apa yang sudah kita miliki selama ini. Lebih tragisnya lagi, kita memohon ilmu pengetahuan, tetapi kita tidak bisa secara spesifik menyebutkan jenis ilmu pengetahuan yang kita inginkan. Sering kita memberikan justifikasi bahwa Tuhan pasti sudah tahu atau Tuhan pasti lebih tahu apa yang kita maksud.

Dalam rangka bersyukur, kita juga diwajibkan untuk mengamalkan serta berbagi kepada orang lain atas ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ilmu pengetahuan, apa pun itu, akan sia-sia, bahkan akan sirna, jika tidak diamalkan. Kita harus bisa mempraktikkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh nyata dapat saya sampaikan tentang diri saya pribadi. Sebagai seorang akuntan yang sudah memliki sertifikat akuntan publik, sudah bertahun-tahun saya tidak lagi mempraktikkan ilmu akuntansi ataupun ilmu auditing saya. Akibatnya, kalau ada yang menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan bidang ini, rasanya saya tidak bisa menjawabnya secara cepat. Saya masih memerlukan membaca buku-buku di bidang itu lagi. Apalagi jika diminta untuk langsung melakukan audit atas laporan keuangan. Sudah barang tentu saya akan ragu-ragu untuk menerima penugasan itu. Saya masih perlu waktu untuk belajar lagi.

Selain mempraktikkan langsung, sarana yang paling ampuh untuk memelihara dan memperdalam suatu pengetahuan adalah dengan berbagi kepada orang lain. Berbagi pengetahuan kepada orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara.
Mengajar di kelas adalah salah satu cara yang efektif untuk memperdalam sesuatu pengetahuan. Supaya ilmu akuntansi masih tetap terpelihara dengan baik, maka sebaiknya kita meluangkan diri untuk mengajar akuntansi di kelas. Dengan mengajar di kelas, mau tidak mau kita harus mempersiapkan diri sebelum hadir di kelas. Kita akan membaca berbagai literatur yang berhubungan dengan ilmu akuntansi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sewaktu kita mengajar, juga kan memperkaya pengetahuan kita di bidang itu.

Kalau kita ingin memperdalam pengetahuan kita di bidang agama Hindu, maka sebaiknya kita mulai mengajarkannya kepada anak di rumah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak-anak kita, akan memacu kita untuk terus dan tambah rajin membaca buku-buku yang berhubungan dengan ajaran Hindu. Kalau memungkinkan, ada baiknya juga kita menawarkan diri untuk bisa sesekali mengajar di sekolah-sekolah agama Hindu yang untuk di luar Bali diadakan tiap hari minggu di Pura. Dengan menjadi relawan sebagai guru agama di Pura, kita akan tergerak dan termotivasi untuk melahap buku-buku yang berkaitan dengan ajaran Hindu. Kita akan belajar terus agar selalu siap jika sewaktu-waktu ada pertanyaan dari siswa. Dengan mengajar, kita menjadi belajar.
Selain mengajar, sarana ampuh lainnya untuk memelihara ilmu adalah dengan menulis. Sebelum ide dan pemikiran-pemikiran yang kita miliki kita tuangkan dalam bentuk tulisan, sudah barang tentu kita akan banyak membaca dan mempelajari buku-buku maupun tulisan-tulisan yang berhubungan dengan topik yang akan kita tulis. Kita akan membahasnya terlebih dahulu dalam pikiran (hati), sebelum ide itu terwujud dalam bentuk susunan kalimat-kalimat. Dengan menulis artikel di bidang agama Hindu, kita sejatinya sedang belajar memperdalam ajaran Hindu.

Sarana lain untuk memelihara dan mengasah pengetahuan khususnya di bidang keagamaan adalah dengan belajar memberikan Dharma Wacana. Mulailah dari kelompok-kelompok kecil terlebih dahulu. Mulai dari kelompok arisan keluarga, rapat di tempek (khusus di luar Bali), rapat banjar, dan seterusnya. Selama ini masih terdapat paradigma yang kurang pas dalam hal Dharma Wacana. Banyak orang yang menghindar kalau diminta untuk memberikan Dharma Wacana. Alasannya, di samping belum menguasai ilmu agama, juga belum layak karena perbuatan sehari-hari belum mencerminkan orang yang ahli agama. Paradigma ini sudah semestinya diubah. Dengan memberikan Dharma Wacana, kita menjadi termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi perihal ajaran agama. Dengan memberikan Dharma Wacana, hal ini akan memotivasi diri kita untuk senantiasa berperilaku yang sesuai dengan ajaran Hindu. Dengan menjadi narasumber, kita akan tergerak untuk terus berbenah diri dan menjalankan praktik-praktik keagamaan dengan baik dan benar. Jangan menunggu kita telah melaksanakan terlebih dahulu, baru kita berbagi pengetahuan dengan orang lain. Dengan memberikan Dharma wacana, kita menjadi belajar bagaiaman menjadi umat Hindu yang baik.

Derasnya arus globalisasi saat ini dan di masa depan, menuntut perubahan-perubahan dalam pembinaan agama Hindu ke depan. Diperlukan lebih banyak orang lagi yang mau berbagi pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang agama Hindu. Ide dan pemikiran-pemikiran prospektif sangat dibutuhkan dalam pembinaan di masa mendatang. Oleh karena itu, melalui perayaan hari Saraswati kali ini, mari kita terus belajar, belajar berkesinambungan tanpa henti, dengan cara berbagi, berbagi ilmu pengetahuan.

Melalui tulisan ini, kami mengundang Anda untuk berbagi pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang Agama Hindu. Mulailah menuangkan ide dan pemikiran Anda dalam bentuk tulisan untuk kemudian disebarluaskan kepada umat Hindu lainnya.

Akhirnya, Selamat Merayakan Hari Saraswati. Selamat Belajar Berkesinambungan, Tanpa Henti.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Jumat, 17 Juli 2009

Catur Guru

Om Suastiastu,
Dalam ajaran agama Hindu kita mengenal ajaran Catur Guru. Ajaran yang kita dapatkan selama ini selalu mengupas tentang bagaimana dan mengapa seseorang itu wajib menghormati keempat guru yang ada. Hampir tidak pernah dibahas bagaimana seharusnya seorang guru mengajarkan pengetahuan atau bagaimana seorang guru seharusnya membimbing anak didiknya.

Sesuai dengan arti katanya, Catur Guru merupakan empat guru yang harus kita hormati. Keempat guru tersebut adalah: (i) Guru Swadhyaya; (ii) Guru Rupaka; (iii) Guru Pengajian, dan (iv) Guru Wisesa.

Guru Swadhyaya adalah Sang Hynag Widhi, Sang Pencipta dunia beserta segala isinya, termasuk manusia. Kita wajib selalu hormat kepada Sang Hyang Widhi karena tanpa Beliau kita tidak mungkin ada, bahkan dunia ini pun tidak bakalan ada. Di samping hormat, kita juga diajarkan untuk senantiasa memuja kebesaran-Nya.

Kita juga diajarkan untuk selalu hormat kepada kedua orang tua kita. Kedua orang inilah (ayah dan ibu) yang melahirkan, membesarkan, dan medidik kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Kedua orang tua kita yang disebut Guru Rupaka inilah yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan bagi kita. Sudah sepatutnya kita senantiasa hormat kepada mereka.

Memasuki usia sekolah, kita mulai berkenalan dengan guru-guru di sekolah. Mereka inilah yang mengajarkan berbagai pengetahuan kepada kita. Mulai dari belajar membaca, menulis, berhitung, pengetahuan sosial, pengetahuan alam, bahkan juga pengetahuan agama. Tanpa keberadaan guru-guru di sekolah yang kita juluki Guru Pengajian, rasanya tidak mungkin kita saat ini berada pada posisi masing-masing. Oleh karena itu, kita patut hormat dan respek kepada mereka.

Kita hidup dalam satu wadah negara kesatuan. Agar kehidupan suatu negara bisa berjalan aman dan teratur, maka diperlukan adanya pemerintahan. Pemerintah inilah dalam ajaran Hindu disebut Guru Wisesa. Sebagai anggota masyarakat, sudah sewajarnya kita patuh dan hormat kepada Guru Wisesa ini.

Semua uraian di atas masih dalam persepektif bagaiamana seharusnya kita bersikap terhadap para guru yang dikenal dalam ajaran Hindu. Selanjutnya, marilah kita bahas dari perspektif guru itu sendiri. Bagaiamana seharusnya perbuatan kita kalau seandainya kita yang menjadi guru?

Pertama, kalau kita menjadi Guru Rupaka. Sebagai orang tua, kita sejatinya adalah guru bagi anak-anak kita. Sebagai guru, orang yang patut digugu dan ditiru, orang tua seharusnya menjadi panutan bagi anak-anaknya. Orang tua harus bisa menjadi role model dalam kehidupan sehari-hari. Setiap perbuatan yang dilakukan dihadapan anak-anaknya akan menjadi contoh bagi mereka.

Pada saat kita menyuruh anak agar tidak nonton TV, apakah kita sudah bisa mengendalikan diri untuk juga tidak nonton TV? Kita menyuruh anak untuk rajin membaca buku, sementara kita sendiri jarang, bahkan tidak pernah terlihat membaca buku di hadapan anak-anak. Bagaiamana kita bisa mengharapkan anak-anak bisa dengan serta merta menjadi rajin membaca buku?

Yang dibutuhkan anak-anak dari orang tuanya adalah panutan, bukan sekadar ucapan.Mereka membutuhkan figur yang bisa dijadikan suri tauladan bagi kehidupannya sehari-hari. Kalau kita mengharapkan anak-anak mau mempelajari ajaran-ajaran Hindu di rumah, maka sebagai orang tua, kita juga harus memberi contoh dengan ikut mempelajari buku-buku keagamaan. Dalam urusan pendidikan agama kita tidak boleh hanya menyerahkan kepada guru di sekolah atau pun guru-guru di sekolah agama (minggu) di Pura. Kita sebenarnya bisa berperan sebagai guru agama bagi mereka.

Kedua, kalau kita sebagai guru di sekolah. Peran guru di sekolah ataupun dosen di kampus sangatlah besar dalam mendidik putera-puteri bangsa Indonesia. Di tangan para guru yang disebut Guru Pengajian inilah nasib bangsa Indonesia ke depan ditumpukan.
Semua anak didik sejatinya mempunyai potensi diri yang luar biasa dahsyat, tanpa batas. Batas-batas yang ada dalam diri mereka sebenarnya diciptakan sendiri oleh mereka melalui system keyakinan yang dianutnya sejak kecil. Guru di sekolah diharapkan jangan menambah batas-batas ini lagi, melainkan membantu untuk mengikis batas-batas tersebut.

Seorang guru harus bisa merangsang tumbuhnya kreativitas anak didik. Di samping itu, guru juga harus bisa mengembangkan kreativitas yang sudah dimiliki anak didik. Sikap guru haruslah ramah. Sudah tidak jamannya lagi, seorang guru ditakuti muridnya. Sebaliknya, guru harus bisa menjadi sosok yang dirindukan murid. Sosok yang dicintai muridnya.

Untuk bisa menjadi pribadi yang demikian, seorang guru pertama-tama harus mencintai pekerjaannya sebagai guru. Dengan demikian, dia bekerja secara totalitas, penuh pengabdian, bahkan bisa mencintai sepenuhnya anak didik sebagaimana dia mencintai anak kandungnya di rumah. Seorang guru hendaknya senantiasa bisa mendoakan keberhasilan murud-muridnya.

Terakhir, pemerintah sebagai Guru Wisesa sebaiknya adalah orang yang benar-benar bisa memerintah rakyatnya dengan baik. Pemerintah seyogyanya dapat menjadi inspirator, serta bisa menjadi tauladan bagi rakyatnya. Segala gerak-gerik harus mencerminkan sikap yang bisa digugu dan ditiru masyarakatnya. Pemerintah juga harus bisa menjadi sosok yang dicintai dan sekaligus mencintai rakyatnya.
Om Shanti Shanti Shanti Om

Senin, 13 April 2009

HUKUM KARMA PHALA

Hukum Karma Phala sejatinya adalah salah satu bentuk hukum alam (Rta). Tuhan menciptkan alam semesta beserta isinya lengkap dengan hukum-hukum alamnya yang universal (berlaku umum) dan netral (tidak memihak). Universal artinya berlaku bagi setiap orang tanpa kecuali. Tidak hanya berlaku bagi umat Hindu, tetapi juga bagi umat di luar Hindu. Bersifat netral artinya tidak memihak dan tidak membeda-bedakan

Selasa, 03 Maret 2009

Moksartham Jagadhita

Seorang pemuda, sebut saja namanya Satwika, sedang jatuh cinta pada seorang gadis, namanya Sawitri. Sawitri merupakan seorang gadis yang sedang tumbuh dan menjadi "kembang" di desanya. Banyak pemuda yang tertarik dan mencintai Sawitri, tak terkecuali Satwika.

Kalau pemuda lainnya memendam rasa cinta pada Sawitri mungkin hanya sekadarnya, hanya sekilas, atau lebih populer disebut "cinta monyet". Akan tetapi, buat Satwika tidak demikian adanya. Dia sungguh-sungguh mencintai gadis idamannya itu. Siang malam wajah Sawitri terbayang-banyang, terlebih-lebih saat menjelang tidur. Terbayang dengan jelas betapa bahagianya dia kelak jika berhasil bersanding, hidup mengarungi bahtera rumah tangga dengan Sawitri, gadis pujaannya itu.

Bagaimana dengan Sawitri? Rupanya secara diam-diam Sawitri juga sedang menaruh hati dengan pemuda lain. Pujawan namanya. Sawitri sama sekali tidak tertarik dan jatuh cinta dengan Satwika. Baginya, Satwika tak lebih hanya sekadar teman. Segenap jiwa raganya tertumpah pada Pujawan, sang pemuda tambatan hatinya.

Suatu ketika, dengan modal mental baja, Satwika memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya kepada Sawitri. Dia sudah membayangkan kebahagiaan tiada tara jika berhasil menyunting gadis idamannya itu.

Jumat, 23 Januari 2009

Tuhan Sudah Mengampuni, Mengapa Kita Belum Memaafkan?

Suatu ketika, Franky (bukan nama sebenarnya), meminjam motor Satwika (temannya) untuk dipakai mengantarkan kakaknya pergi ke pasar. Karena kakaknya berbelanja cukup banyak, waktu yang dibutuhkan pun menjadi lama. Untuk menghilangkan rasa bosan menunggu terlalu lama, Franky memutuskan untuk memarkir motornya dan ikut melihat-lihat beberapa barang di pasar. Setelah kira-kira satu jam berjalan-jalan, dia kemudian kembali ke tempat parkir motor.

Betapa kagetnya dia karena ternyata motor milik temannya itu sudah tidak ada lagi di tempat semula. Motor hilang. Pikiran Franky berkecamuk, campur aduk antara marah, kesel, sedih, kecewa, dan sejenisnya. Betapa marahnya dia kepada pencuri yang tega-teganya mengambil barang yang kebetulan juga adalah barang pinjaman dari temannya. Betapa kecewanya dia pada dirinya sendiri karena telah memutuskan untuk tidak menjaga sendiri motor itu. Betapa sedihnya dia karena memikirkan bagaimana caranya dia memberitahu kepada Satwika, temannya bahwa motornya hilang. Betapa marahnya nanti temennya begitu mendengar bahwa motornya hilang. Apakah dia harus mengganti motor yang baru sebulan dibeli temannya itu? Bagaimana caranya dia mendapatkan uang untuk membeli motor sementara saat ini dia masih pengangguran?

Dengan perasaan bercampur aduk tidak karuan, akhirnya dia memberanikan diri untuk memberitahukan secara terus terang, secara jujur kepada temannya bahwa motornya hilang sewaktu parkit di pasar. Dia juga minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut. Di luar yang diperkirakan sebelumnya, ternyata Satwika sama sekali tidak marah atas hilangnya motor itu. Bahkan, dia malahan menasihati Franky agar tidak memikirkan lagi kejadian tersebut. Peristiwa hilangnya motor sudah terjadi. Hal itu tidak bisa lagi diubah. Apakah dengan marah-marah, kesal, kecewa, dan bersedih, akan membuat motor itu kembali? Tidak juga. Satwika telah memaafkan perbuatan temannya itu dan sudah tidak mempermasalahkannya lagi, serta tidak meminta Franky mengganti motornya itu. Satwika sudah mengikhlaskannya, tetapi Franky merasa malu, merasa tidak enak, dan merasa bersalah karena telah menghilangkan motor itu. Dia berjanji, apabila suatu saat nanti dia mempunyai cukup uang, dia akan menggantinya.

Setelah kejadian itu, kehidupan Franky berubah. Hari-hari dilaluinya dengan kemurungan. Setiap hari dia berdoa dan memohon ampun kepada Tuhan. Dia masih benci kepada pencuri itu dan dalam setiap doanya memohon kepada Tuhan untuk memberikan ganjaran yang setimpal kepada pencuri itu.

Apakah Tuhan mau mengampuni perbuatan Franky? Apa yang harus dilakukannya agar Tuhan mau mengampuninya?

Dalam ajaran agama apapun, Tuhan adalah Maha Pemaaf, Maha Mengampuni. Jadi, atas kejadian tersebut di atas, Tuhan sudah pasti mengampuni kesalahan yang telah diperbuat Franky. Tuhan sudah memaafkan 100%. Demikian juga dengan Satwika. Satwika pun sudah memaafkan Franky. Permasalahannya adalah Franky sendiri belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Selama Franky belum bisa memaafkan dirinya sendiri, maka masalah tersebut akan membebani dia dalam hidupnya sehari-hari. Masalah tersebut akan menggelayuti perjalanan Franky untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

Dalam pergaulan sehari-hari sering kita berbuat salah pada orang lain. Kemudian dengan segera kita meminta maaf dan orang itu pun segera memaafkan. Akan tetapi, diri kita sendiri belum bisa memaafkan kesalahan tersebut. Sepanjang kita belum bisa memaafkan, maka kejadian tersebut akan terus membebani pikiran kita. Kalau terjadi kesalahan lagi di kemudian hari dan kita juga belum bisa memaafkannya, maka beban ini akan menumpuk dan terus menumpuk. Terkadang hal ini akan menimbulkan penyakit pada tubuh kita. Sesungguhnya penyakit yang kita derita sering kali berasal dari kekotoran hati, dari permasalahan-permasalahan yang tertinggal, dari permasalahan-permasalahan yang belum beres, yang terus menumpuk dalam hati dan pikiran kita.

Demikian juga sebaliknya, orang lain yang berbuat kesalahan dan kemudian meminta maaf kepada kita. Sepanjang kita belum bisa memaafkan, maka kesalahan orang tersebut akan terus membayangi pikiran dan hati kita. Apalagi kalau kita masih membencinya. Membenci orang lain sama artinya dengan kita minum racun, tetapi mengharapkan orang lain yang mati pelan-pelan. Orang lain yang kita benci hidupnya tenang dan bahagia, sementara kita sendiri sengsara dibuatnya. Kita akan terbebani terus selama kita belum memaafkan orang itu. Sepanjang kita belum memaafkan, siapapun itu dan apapun itu, akan terus menempati ruang di hati kita secara gratis, tanpa sewa.

Kalau kita kaitkan pembahasan di atas dengan perayaan Hari Siwaratri yang akan kita rayakan, maka hal tersebut sangatlah relevan. Ajaran Hindu sudah menyediakan waktu khusus, yaitu pada Hari Siwaratri, yang jatuh pada sehari menjelang Tilem Kepitu setiap tahun. Biasanya jatuh sekitar bulan Januari, bulan pertama pada tahun kalender.

Mulai pagi hari pukul 06.00 pagi umat Hindu diajarkan untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, baik kesalahan yang dilakukan sendiri atas orang lain, maupun kesalahan orang lain terhadap diri kita sendiri. Mengapa kita harus mengakui? Dengan mengakuinya, maka rasa bersalah (dosa) itu bisa kita lepaskan. Sepanjang kita belum bisa mengakui bahwa sesuatu itu telah terjadi (termasuk kesalahan), maka sesuatu (kesalahan) itu akan sulit kita lepaskan. Rasa bersalah akan terus menggelayuti kita. Oleh karena itu, maka langkah pertama adalah mengakuinya bahwa perbuatan itu sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubah segala sesuatu yang sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita. Yang bisa kita ubah adalah cara kita memandang atas peristiwa tersebut. Yang bisa kita ubah adalah masa depan kita.

Pada cerita Lubdhaka yang sangat terkenal itu, diceritakan bahwa karena tersesat di hutan maka dia memutuskan untuk naik ke atas pohon untuk berlindung dari serangan binatang buas. Agar tidak jatuh sewaktu-waktu, maka dia selalu terjaga (jagra = tidak tidur) dan tetap sadar. Aktivitas yang dilakukan adalah memetik daun bila dan melepaskannya ke bawah. Sambil merenungi perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya selama ini, dia mengakui perbuatan-perbuatan (dosa-dosa) tersebut. Setelah mengakuinya, maka dia lepaskan satu per satu seperti dia melepaskan daun bila satu per satu ke bawah. Bukan hanya kesalahan dirinya sendiri, tetapi juga kesalahan orang lain terhadap dirinya juga dia lepaskan. Seluruh masa lalu yang membuatnya bersedih, kesal, marah, benci, dan sejenisnya dia lepaskan. Dia menjadi bebas dari bayang-bayang masa lalu. Dia telah melepaskan seluruh masa lalunya. Inilah yang disebut dengan Moksa.


Kembali ke cerita di awal. Atas kesalahan (dosa) Franky menghilangkan motor temennya, Tuhan sudah mengampuni 100%. Satwika (temannya) juga sudah memaafkan. Tinggal Franky sendiri yang belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Langkah pertama yang harus dijalani Franky adalah mengakui kesalahannya itu. Dia harus ikhlas menerima bahwa hal itu sudah terjadi. Setelah ikhlas menerima, maka dia harus melepaskannya, juga dengan perasaan ikhlas.

Salah satu cara efektif untuk bisa mengakui adalah dengan menuliskannya di atas kertas. Dengan menuliskannya, maka akan terjadi interaksi antara alam bawah sadar, seluruh anggota tubuh, dan alam semesta. Oleh karena itu, pada Hari Siwaratri, sebaiknya kita mempersiapkan alat tulis. Kita inventarisasi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) yang telah kita perbuat selama setahun terakhir. Kita juga inventarisasi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa) orang lain terhadap kita. Kita tulis seluruh fakta atau kebenaran yang memang benar terjadi. Memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan inventarisasi ini, bahkan sampai kita tidak tidur (jagra) selama 36 jam. Setelah terinventarisasi seluruhnya, maka lepaskanlah seluruhnya. Hal ini bisa dilakukan dengan membakarnya atau pun dengan merobeknya.

Mari kita ikhlaskan perbuatan-perbuatan yang sudah terjadi. Mari lepaskan masa lalu kita. Mari kita bebaskan diri kita dari belenggu masa lalu. Mari kita nikmati masa kini, saat ini, dengan penuh riang gembira, dengan rasa senang dan penuh bahagia. Mari songsong masa depan kita tanpa harus digelayuti masa lalu kita yang negatif. Mari kita sambut masa depan kita dengan opti,isme dan semangat tanpa terbebani hal-hal yang terjadi di masa lalu.

Selamat menjalankan Brata Siwaratri.

Om Shanti Shanti Shanti Shanti Om


I Nyoman Widia

Jumat, 16 Januari 2009

SIWARATRI : MALAM PENGAMPUNAN DOSA

Hari Sabtu, 24 Januari 2009 mendatang umat Hindu akan merayakan Hari Raya Siwaratri. Selama ini sebagian masyarakat memaknai sebagai malam peleburan dosa atau malam pengampunan dosa. Ada juga yang memaknainya sebagai malam perenungan dosa. Sebagian lagi umat memaknainya sebagai malam sambang semadhi.

Benarkah dosa itu bisa diampuni? Atau dilebur? Dihapus? Apa saja syarat-syaratnya agar dosa kita bisa diampuni? Apakah dengan merayakan Siwaratri dengan melaksanakan seluruh brata yang dipersyaratkan menjadikan dosa kita hapus?

Dalam Siwaratri terdapat tiga brata yang mesti dilakukan, yakni jagra (tidak tidur) selama 36 jam, upawasa (berpuasa makan & minum) selama 24 jam, dan mona brata (tidak bicara) selama 12 jam.

Jumat, 05 Desember 2008

TRI KAYA PARISUDHA

Selama bertahun-tahun kita belajar Agama Hindu, ajaran Tri Kaya Parisudha tidak pernah dikupas secara tuntas. Bahkan, pengertiannya pun terdapat kekeliruan. Yang manakah itu?

Tri Kaya Parisudha artinya tiga perbuatan yang disucikan, yang terdiri dari Manacika Parisudha, Wacika Parisudha, dan Kayika Parisudha. Manacika artinya berpikir yang baik, Wacika Parisudha artinya berbicara yang baik dan benar, dan Kayika Parisudha artinya gerak tubuh yang baik.

Selama ini kalau kita bertanya apa arti Tri Kaya Parisudha akan selalu mendapat jawaban sebagai tiga perbuatan yang disucikan, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kayika diartikan sebagai perbuatan padahal kita sedang menjelaskan tiga jenis perbuatan. Seharusnya tiga jenis perbuatan terdiri dari tiga hal yang tidak termasuk perbuatan itu sendiri.

Oleh karena itu, saya memaknai perbuatan itu terdiri dari berpikir (manacika), berbicara (wacika), dan gerakan tubuh(kayika). Jadi, kayika artinya gerakan tubuh.

Sebagai contoh adalah perbuatan marah. Perbuatan ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pertama pikiran kita marah pada seseorang, kemudian diikuti dengan kata-kata marah yang keluar dari mulut kita, dan terakhir, gerakan tubuh kita memukulnya.

Demikian juga sebuah pesan akan sampai kepada orang lain melalui perbuatan kita yang terdiri juga dari tiga unsur. Pertama muncul dalam pikiran, kemudian kita sampaikan dengan kata-kata, dan diikuti dengan gerak tubuh kita.